Gambang Rancag

Gambang Rancag adalah kesenian pantun berkait yang dituturkan oleh dua orang yang berhadapan sebagai seteru dengan musik gambang (kromong) sebagai pengiring pertunjukannya. Kesenian tersebut terlahir dari proses kreativitas seniman Betawi dengan anggapan bahwa terdapat dua bentuk tingkah laku tradisional sebagai citra kesenian Betawi. Proses kreativitas tersebut dapat dihubungkan antara kebiasaan hidup masyarakat Betawi yang terpengaruh budaya melayu dengan tradisi berpantun sebagai media komunikasi, khususnya upacara “buka palang pintu”, dan kegemaran masyarakat Betawi pada musik gambang kromong. Akulturasi budaya pada masyarakat Betawi telah terjadi sekian lama sehingga kelahiran etnik Betawi telah mencerminkan sikap terbuka. Selanjutnya, Gambang Rancag dapat dilihat sebagai kajian mengenai penerapan teori formula yang menggejala pada salah satu bentuk kesenian masyarakat etnik khususnya tradisi lisan. Rancag atau secara lengkap disebut dengan Gambang Rancag merupakan salah satu kesenian Betawi yang menggunakan unsur suara sebagai elemen utama dalam pertunjukannya.

 

Kata Gambang Rancag terdiri atas dua kata, yaitu Gambang dan Rancag. Gambang berarti musik pengiringnya adalah gambang kromong, sedangkan kata rancag sama artinya dengan pantun. Cerita yang dibawakan dengan dipantunkan disebut cerita rancagan, atau cukup disebut rancag atau rancak saja, berbentuk pantun berkait. Instrumen musik pengiring yang lain adalah 3 buah alat musik dawai (kordofon) gesek yang bernama kong ahyan, tehyan, dan sukong. Ketiganya memiliki ukuran yang berbeda, nama-nama tersebut berderet dari ukuran kecil ke besar. Selain instrumen tersebut masih ada pula instrumen yang lain yaitu: gendang, suling, kecrek, gong dan kromong.

 

Menurut seniman rancag, Jali Jalut, ngerancag berarti ‘ngomong’ atau ‘bercerita’, dalam hal ini saling bercerita antara dua orang dengan menggunakan pantun sebagai media bercerita. Rancag sering pula diucapkan dengan [rancak] karena adanya perbedaan dialek dalam pengucapan. Orang Betawi Pinggiran mengucapkan [rancag], sedangkan orang Betawi Tengahan mengucapkan [rancak].

 

Rancag telah ada sejak awal abad ke-20. Pada awalnya rancag muncul dan berkembang di daerah Kemayoran, yang sekarang menjadi wilayah Jakarta Pusat. Pada masa kolonial, rancag juga sudah direkam dengan berbagai cerita. Setelah masa kemerdekaan, sekitar tahun 1970-an sampai dengan awal 1980-an peminat rancag agaknya mulai berkurang sehingga diadakanlah festival atau lomba-lomba Rancag. Dari kegiatan inilah lahir nama-nama perancag, seperti Ki Badeh, Sarbini, dan Samen. Babe Jali termasuk perancag yang lahir pada masa tersebut. Ia salah satu yang terkenal sebagai tukang rancag karena sering menjuarai lomba. Babe Jali (Grup Jali Putra, Pekayon, Cijantung, Jakarta Timur) inilah yang sampai saat ini masih bertahan dan mewariskan kebiasaannya kepada putranya, Bang Firman.

 

Domain                       : Seni Pertunjukan

Lokasi Persebaran    : Jakarta

Maestro                      : Rojali, Jakarta Selatan

                                      Firmansyah, Jakarta Selatan

Kondisi                       : Sudah berkurang