Enggang, Seni Tari

Tari Burung Enggang atau Tari Enggang adalah salah satu tarian tradisional yang ikut ditampilkan dalam acara pembukaan pesta olahraga akbar se-Asia, Asian Games  2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tari Enggang merupakan tarian khas suku Dayak Kenyah yang bermukim di Kalimantan Timur. Dalam bahasa Dayak Kenyah tarian ini biasa disebut dengan nama Tari Kancet Lasan. Tarian ini mengandung filosofi tinggi bagi masyarakat suku Dayak Kenyah, dan wajib ditampilkan dalam setiap upacara adat, penyambutan tamu, serta festival budaya. Suku Dayak Kenyah mempercayai bahwa nenek moyang mereka  berasal dari langit dan turun ke bumi menyerupai burung Enggang, sehingga mereka sangat menghormati dan memuliakan burung Enggang. Bulu burung Enggang selalu memegang peranan penting dalam setiap upacara adat dan tarian. Ukiran yang dibuat oleh suku Dayak Kenyah juga banyak  menampilkan bentuk burung Enggang. Oleh sebab itu Tari Enggang dapat dimaknai sebagai penghormatan suku Dayak Kenyah terhadap asal-usul leluhur mereka. Ada pendapat lain yang memaknai Tari Enggang sebagai simbol perpindahan masyarakat suku Dayak Kenyah dari satu tempat ke tempat lainnya secara berkelompok. Suku Dayak Kenyah dahulu memang menjalani hidup nomaden, berpindah-pindah tempat untuk mencari keselamatan bagi warganya dan menghindari peperangan antar suku.

Tari Enggang hanya dibawakan oleh para perempuan sebagai representasi dari burung Enggang itu sendiri. Mereka menari dengan lemah gemulai menggunakan gerak dasar seperti gerakan burung Enggang. Tari Burung Enggang atau Tari Enggang mempunyai tiga gerakan dasar, yaitu (1) Nganjat, gerakan khas tarian Dayak yang menjadi gerakan utama. Gerakannya menyerupai burung Enggang Gading saat membuka dan menutup sayapnya, yang melambangkan gerakan molek dari seorang penari Dayak; (2) Ngasai, gerakan para penari menyerupai burung Enggang yang sedang terbang; (3) Purak Barik, gerakan perpindahan tempat. Para penari melakukan gerakan layaknya burung yang sedang berpindah tempat. Dalam perkembangannya, muncul kreasi baru dari Tari Enggang, namun sebagaimana lazimnya tari kreasi baru yang berakar pada tarian tradisional, makna serta filosofi yang terkandung dalam Tari Burung Enggang tetap dipertahankan.

Penari mengenakan busana adat Dayak yang bertabur manik, “lavung” (topi yang dibuat dari rotan dengan hiasan bercorak sesuai busananya), ikat kepala yang diberi hiasan bulu burung Enggang atau bermotif burung Enggang, kalung terbuat dari manik-manik yang berwarna-warni atau kalung dari taring macan, bulu burung Enggang yang disematkan dengan cara diikat pada jari tangan seperti cincin agar tidak mudah lepas saat tangan diayunkan, dan anting-anting besar. Musik pengiring Tari Enggang adalah alat musik tradisional suku Dayak yaitu sampe, gendang dan gong. “Sampe” adalah alat musik petik khas Dayak Kenyah yang dimainkan dengan cara dipetik seperti gitar tetapi menggunakan jari-jari kedua tangan sekaligus. Biasanya sampe memiliki tiga buah dawai atau senar meski ada juga yang lebih. Awalnya dawai sampe dibuat dari serat pohon enau tetapi sekarang sudah menggunakan kawat kecil. Pada ujung gagang sampe (bagian kepala) terdapat hiasan ukiran yang menggambarkan taring-taring dan kepala burung Enggang. Bagi masyarakat suku Dayak, alat musik Sampe berfungsi untuk mengekspresikan perasaan gembira, rasa sayang, kerinduan, bahkan duka. Alat musik khas Dayak ini tidak hanya di mainkan pada saat acara adat saja namun juga dalam hidup keseharian mereka.