Empal Gentong, Kuliner

Empal Gentong adalah makanan semacam gulai atau gule yang berisi potongan daging dan jeroan dengan kuah santan. Empal dalam bahasa Cirebon artinya daging, sedangkan gentong adalah wadah makanan yang terbuat dari tanah liat dan biasa digunakan untuk memasak empal. Ada beberapa versi mengenai sejarah kuliner ini. Versi pertama menyebutkan bahwa masakan empal gentong berasal dari Plered dan Megu, Kecamatan Weru. Dahulu di kedua tempat tersebut terdapat banyak tempat pejagalan atau penyembelihan hewan kerbau dan sapi. Masyarakat kelas menengah enggan mengkonsumsi jerohan dan kulit karena kadar kolesterol yang tinggi. Penduduk kemudian mengolah kulit kerbau menjadi kerupuk, sedangkan jerohan dijadikan bahan campuran empal gentong. Awalnya empal gentong memang dibuat dari daging kerbau, namun seiring makin langkanya daging kerbau, kemudian digunakan daging dan jerohan sapi sebagai gantinya, dan kulitnya pun dibuat menjadi kerupuk seperti halnya kerupuk dari kulit kerbau. Pada masa sebelum kemerdekaan, hidangan empal gentong dan kerupuk kulit kerbau menjadi sajian istimewa di hari Lebaran bagi masyarakat Desa Plered dan Megu.

Versi kedua menyebutkan bahwa empal gentong bukan masakan murni masyarakat Cirebon, melainkan masakan khas Timur Tengah yang sudah ada sejak sekitar abad XVIII-XIX. Masakan ini dibawa dari Timur Tengah oleh para sultan di masa lalu dan dilestarikan oleh masyarakat Cirebon. Penamaan gentong karena makanan itu dimasak menggunakan periuk besar atau gentong berbahan tanah liat. Saat itu masyarakat memang tidak mengenal panci sehingga gulai pun dimasak di dalam gentong. Cara memasaknya pun menggunakan tungku biasa berbahan bakar kayu pohon mangga atau pohon asam yang tetap dipertahankan sampai sekarang. Kelebihan memasak menggunakan kayu bakar akan memunculkan rasa dan tingkat keempukan daging yang berbeda. Penggunaan gentong juga akan memberikan aroma dan rasa tersendiri, terlebih jika gentong yang sama dipakai secara terus-menerus dimana kerak bumbu sudah mengendap di pori-pori gentongnya.

Empal gentong yang berisi potongan daging, usus, dan babat, disajikan bersama nasi atau lontong. Cara memasak lontongnya hanya dengan memasukkan beras ke dalam daun pisang yang digulung menjadi bentuk silinder kemudian direbus selama 4 jam. Taburan daun kucai (Chlorella sorokiniana) di atas empal gentong memberikan aroma tersendiri. Begitu juga dengan cabai kering giling yang sangat pedas karena merupakan saripati cabai merah kering yang ditumbuk kasar. Empal gentong merupakan makanan jajanan, makanan ini bisa disantap kapan saja oleh masyarakat karena pedagangnya selalu ada, baik itu di pagi, siang, sore,atau bahkan malam hari.

Bahan isian:

  1. 200 gram daging sapi
  2. 200 gram jeroan sapi
  3. 2 liter santan kelapa

Bumbu halus:

  1. 6 buah bawang merah
  2. 3 siung bawang putih
  3. 2 cm kunyit
  4. 2 buah kemiri
  5. garam secukupnya

Bumbu yang dimemarkan:

  1. 2 cm lengkuas
  2. 2 cm jahe
  3. 2 cm kayu manis
  4. 3 lembar daun salam
  5. 1 batang serai

Bahan dan bumbu pelengkap:

  1. garam
  2. gula merah
  3. air untuk merebus
  4. minyak untuk menumis
  5. daun kucai
  6. daun bawang
  7. bawang goreng
  8. sambal bubuk
  9. kecap manis

Cara membuat:

  1. Potong daging sapi dengan ukuran sesuai selera, cuci bersih dan tiriskan. Rebus daging sapi dan jerohan secara terpisah hingga matang dan empuk.
  2. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan dengan sedikit minyak hingga tercium aroma harum. Masukkan lengkuas, jahe, kayu manis, batang serai, dan daun salam. Setelah itu, masukkan daging sapi dan jerohan yang sudah direbus ke dalam bumbu.
  3. Tambahkan gula merah dan garam. Aduk hingga rata. Diamkan selama ± 30 menit sampai bumbu meresap ke daging dan bau kunyit tidak tercium lagi.
  4. Masukkan santan dan tunggu sampai sekitar 15 menit.
  5. Masak dengan api kecil hingga empuk dan matang sempurna, kurang lebih satu jam sampai tidak tercium lagi aroma santan.
  6. Sajikan empal gentong dengan taburan daun kucai, irisan daun bawang dan bawang goreng. Tambahkan sambal bubuk dan kecap manis.
  7. Daging sapi dapat diganti dengan bagian kepala yang lebih banyak mengandung lemak sehingga kuah menjadi lebih berminyak. Untuk santan, sebaiknya menggunakan kelapa segar. Pilih kelapa yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua untuk mendapatkan kualitas santan yang baik.