Dulmuluk, Seni Pertunjukan

Dulmuluk merupakan seni pertunjukan tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan. Seni pertunjukan ini bermula dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau dengan karya fenomenalnya “Gurindam Dua Belas”. Teter rakyat Dulmuluk berawal dari kitab Kerajaan Melayu yang telah selesai ditulis pada tanggal 2 Juli 1824, dengan judul syair Abdul Muluk yang kemudian dipentaskan secara teatrikal. Pada masa penjajahan Jepang di tahun 1942, seni pertunjukan ini mulai dikenal luas oleh masyarakat Sumatera Selatan khususnya Palembang. Seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Grup teater kemudian bermunculan dan Dulmuluk tumbuh serta digemari masyarakat.

Dulmuluk mirip dengan Lenong Betawi, akting pemainnya dilakukan secara spontan dan menghibur. Teater Dulmuluk memiliki keunikan yang membedakannya dengan bentuk teater tradisional lain, di antaranya: (1) Dialog berupa syair dan pantun karena memang seni ini berawal sebuah syair yang dipentaskan; (2) Semua tokoh dimainkan oleh laki-laki, termasuk tokoh perempuan; (3) Terdiri dari rangkaian nyanyian dan tarian Beremas yang mengawali dan mengakhiri pertunjukan; (4) Tarian dan nyanyian dilakukan sebagai bentuk pengungkapan isi hati seperti, sedih, senang ataupun marah; (5) Hanya menceritakan dua syair yaitu, syair Raja Abdul Muluk dan syair Zubaidah Siti; dan (6) Menampilkan kuda Dulmuluk sebagai ciri khas tersendiri.

Para pemeran pertunjukan Dulmuluk dituntut kemampuannya untuk bernyanyi sesuai tokoh yang dibawakannya. Pesan moral yang ada dalam pertunjukan ini disampaikan melalui “hadam”, yaitu semacam syiar-syiar islam. Dulmuluk sering ditampilkan dalam pesta pernikahan. Lama pertunjukan teater rakyat Dulmuluk  biasanya semalam suntuk. Saat ini tetaer Dulmuluk dihidupkan kembali melalui pementasan di sekolah-sekolah, tetapi dengan waktu yang lebih pendek.