Drs. H. Abdul Ghoni (bang-ghoni), Tokoh

Abdul Ghoni: Jatuh Bangun Politisi Betawi

Melewati proses jatuh-bangun, dirinya tetap kerja keras. Wajah angker Forkabi ia sulap kian elegan. Pengalaman bekerja sebagai pialang di sejumlah perusahaan sekuritas tampaknya telah menempa mental Abdul Ghoni menjadi sosok pekerja keras.  Sebelum terjun di dunia politik dengan menjadi aktivis partai politik dan kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Bang Ghoni–demikian biasa dirinya disapa– memang sudah 13 tahun bekerja menjadi pialang di sejumlah perusahaan sekuritas. Dirinya lantas berhenti, untuk terjun dalam dunia politik.

Pilihan ayah tiga anak ini tertuju sebagai kader akar rumput Partai Amanat Nasional (PAN). Lelaki kelahiran 11 Mei 1960 silam ini mulai dari pengurus kelurahan, hingga akhirya dipercaya menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PAN Jakarta Selatan hingga Ketua DPD PAN Jakarta periode 2000-2005. Ia pun terpilih sebagai anggota DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009 dengan mendulang 15.424 suara. Menariknya, dirinya menandatangani kontrak politik berisi siap mundur dan masuk bui bila melakukan korupsi. Sayangnya, di periode berikut, yakni 2009-2014, dirinya harus menerima kekalahan tak lagi dipilih. Awalnya membuat dia gundah. Pasalnya, dana kampanye untuk mencalonkan diri habis hingga Rp3 miliar. Tentu menggerus keuangannya kala itu.

Alumnus Universitas Krisnadwipayana ini membuladkan tekad tetap di jalur politik. Dengan melihat kondisi PAN DKI Jakarta yang kurang diurus oleh pengurus pusat, Bang Ghoni lalu pindah perahu kepada Partai Gerindra, asuhan Prabowo Subianto.

Untuk menghidupi keluarga, dirinya lalu menjadi pengusaha properti kelas bawah. Saat itu saya usaha developer kecil-kecilan. Modalnya dapat dari kawan yang kebetulan menjabat kepala cabang sebuah bank, dan lahannya punya kerabat. Hasilnya lumayan dan akhirnya saya bisa bangkit lagi.

Selain itu, Bang Ghoni juga turut dalam organisasi massa seperti Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Bendahara Dewan Pengurus Cabang (DPC) Jakarta Selatan. Lantas pada pemilihan legislatif tahun lalu, dirinya mencalonkan kembali sebagai legislator Kebon Sirih. Hasilnya cukup membanggakan. Bang Ghoni yang mencalonkan dari daerah pemilihan (dapil) tujuh Jakarta Selatan yang meliputi lima kecamatan; Setia Budi, Kebayoran Baru, Kebayoran Lama, Pesanggrahan, dan Cilandak bisa mengumpulkan 22 ribu suara. Dengan nomor urut 7 dari dapil 7, ia terpilih.

Salah satunya kemudahan akses dalam menjalin konstituen tak lain berkat bergelut bersama Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi). Memang organisasi ini sudah sejak lima belas tahun lalu ia ikuti.di Forkabi ia adalah Koordinator Forkabi untuk wilayah Jakarta Selatan. Anggotanya ada 8000 orang. Waktu berkampanye ia tidak memakai struktur partai. Saat melangkah ke Kebon Sirih, nyatanya ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Gerindra. Penunjukan tersebut baginya sebagai kado penghargaan besar dari pucuk pimpinan Partai Gerindra Prabowo Subianto. Sebagai ketua fraksi ia harus  memperjuangkan aspirasi, mensinkronkan anggota di fraksi serta menjaga nama baik partai.

Bagi Abdul Ghoni, Forkabi bagai nadi. Organisasi massa ini sejatinya lahir atas tuntutan era Otonomi Daerah sejak diberlakukannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Selain itu, juga menjadi underbow PAN.

Pada era Otonomi, tepatnya 2001, kalangan masyrakat Betawi yang merupakan masyarakat inti Ibukota Jakarta mulai menguat. Terlebih pasca konflik etnis Betawi dengan Madura di sekitar Kebayoran Lama yang menewaskan Iwan, seorang pemuda Betawi. Para tokoh Betawi pun berembuk. Singkatnya, setelah rekonsilitasi Madura-Betawi tercapai, maka sejumlah tokoh Betawi bertemu Amien Rais. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan para tokoh Betawi akan bergabung dalam PAN sekaligus mendukung Amien Rais untuk maju sebagai calon presiden. Imbalannya, tokoh Betawi akan menjadi Gubernur Jakarta sehingga pada 18 April 2001 dari pertemuan Mega Mendung disepakati pembentukan Forkabi.

Bang Ghoni pun sudah menjadi anggota Forkabi sejak 15 tahun lalu. Karena itu, ia ikut berlabuh sebagai kader PAN. Hanya saja pada pemilu legislatif 2009, merasa diperlakukan kurang adil oleh PAN, para aktivis Forkabi mendatangi kantor DPP PAN di Jalan Warung Buncit Raya 17 Jakarta Selatan (Jaksel), pada 3 Juni 2009. Mereka melakukan protes atas keputusan PAN yang berusaha menjegal Bang Ghoni meraih kursi di DPRD DKI Jakarta.

Memang sejak 2012, Bang Ghoni sudah menjadi Ketua DPD Forkabi Jaksel. Massa Forkabi kala itu membentangkan spanduk kecaman terhadap PAN seperti bertuliskan kalimat ancama seperti: ‘Jangan Kebiri Wakil Betawi’, ‘Bang Ghoni Gak Jadi Dewan, PAN Jaksel Bubar!’, ‘Abdul Ghoni nggak jadi, jangan harap ada PAN di Selatan’. Alhasil, Bang Ghoni akhirnya tak terpilih menjadi anggota dewan di Kebon Sirih. Ia pun tak mau hanyut mengecam PAN, sehingga melanjutkan sebagai politisi Partai Gerindra. Meski begitu, Bang Ghoni tetap bersama Forkabi. Hati, pikiran, hingga dana ia tuangkan demi meningkatkan sumber daya manusia masyarakat Betawi yang kian terpinggirkan.

Ia berharap dari organisasi Forkabi orang Betawi punya payung organisasi yang bisa memberi kebaikan kepada anggotanya. Selain itu, dirinya berusaha mempercantik wajah angker Forkabi yang doyan melakukan kekerasan, menjadi elegan dengan segala pengetahuan dan ketrampilan. Ia lebih memilih memberdayakan anggota melalui berbagai aktifitas seperti pendidikan dan sosialisasi mengenai otonomi daerah, peraturan daerah. Ini agar anggota tahu aturan main.

Kalau dulu yang dikedepankan otot, maka sekarang nggak boleh lagi. Sekarang jamannya kita lebih menggunakan otak. Karena hanya dengan itulah kita bisa bersaing. Tanpa itu masyarakat betawi hanya akan jadi penonton di kampungnya sendiri Aksi premanisme gaya memalak juga akan dihindarkan bagi keanggotaan oknum Forkabi.

Ia mewanti-wanti anggota utnuk tidak sekali-kali minta duit. Yang boleh adalah minta kerjaan, agar mereka punya jasa yang kemudian bisa menghasilkan uang. Sekarang ini tercatat ada 80 ribu anggota Forkabi yang  coba diberdayakan melalui koperasi. Proses izinnya sedang diurus, pungkasnya.  

Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Anak Betawi (DPP Forkabi) pernah mengusulkan nama Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI Jakarta, Abdul Ghoni ke Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Soebianto untuk menggantikan Sandiaga Salahudin Uno menjadi wakil gubernur (wagub) DKI. Masyarakat Betawi sangat berharap, ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI itu dapat menduduki kursi DKI-2.

DATA PROFIL

Nama : Drs. H. Abdul Ghoni

Tempat/tgl. lahir: Jakarta, 11 Mei 1960

Agama: Islam

 

Istri: Nova Artika

Anak:

Ghiska Primanda.

M. Muda Maghaska.

Arieska Primanda.

 

Pengalaman organisasi:

Partai Gerindra (2013-sekarang).

Partai PAN (2002-2011).

Ketua FORKABI Jakarta Selatan.

Bendahara PC NU Jakarta Selatan.