Dian Al Mahri, Tokoh

Hajjah Dian Djuriah Rais binti H Muhammad Rais atau yang akrab disapa Dian Al Mahri lahir  14 Desember 1949 dan tinggal di Jalan Masjid Al Ikhlas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Pemilik kilang minyak di Brunei ini terkenal sebagai sosok yang suka bersedekah. Keuntungan dari kilang minyak yang ia miliki diinfakkan separuhnya. Salah satu Infak yang ia berikan adalah dengan membangun Masjid Kubah Emas yang beralamat di jalan Meruyung, Cinere, Depok.

Bersama suaminya Maimun Al Rasyid, di tahun 1996 membeli lahan di Kecamatan Limo, Depok, yang digunakan untuk membangun Masjid Kubah Emas.  Dian Al Mahri kemudian memulai pembangunan Masjid Kubah Emas pada tahun 1999 dan diresmikan pertama kali untuk salat Idul Adha pada 31 Desember 2006. Dian Al Mahri sengaja membangun Masjid Kubah Emas dengan megah karena ingin mempunyai masjid yang jauh lebih bagus daripada rumah tempat tinggalnya.

Cerita lainnya,  Ini juga menjadi rahasia di balik megahnya Masjid Kubah Emas itu adalah keajaiban sedekah. Suatu hari, Hj. Dian membeli sebidang tanah di Brunei Darussalam. Awalnya, ia hanya membeli tanah tersebut untuk investasi, tapi ternyata tanah itu mengandung minyak bumi. Dibangunlah pertambangan di sana. Seperti telah menjadi komitmennya sejak dulu, keuntungan dari minyak bumi pun, diinfakkan setengahnya.

Masjid Kubah Emas memiliki luas kawasan sekitar 50 hektare. Dengan area seluas itu, masjid ini dapat menampung sekitar 20.000 jemaah. Bukan itu saja, kawasan masjid disebut-sebut kawasan masjid termegah di Asia Tenggara. Semula, Masjid Kubah Emas bernama Masjid Dian Al Mahri. Namun karena lima kubah yang ada di masjid tersebut semuanya dilapisi emas, maka masyarakat sekitar sering menyebut masjid itu dengan nama Masjid Kubah Emas.

Namun, Kubah Emas bukanlah satu-satunya masjid yang didirikan oleh Dian. Ia juga pendiri Masjid Al Ikhlas di Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Lokasinya tepat di belakang rumah Dian. Masjid Al Ikhlas memang tidak sebesar Kubah Emas. Meski begitu, masjid ini dibangun dengan biaya yang terhitung sangat besar. Marbot Masjid Al Ikhlas, Syafrudin (64), mengatakan pembangunan masjid tersebut menghabiskan uang sebesar Rp 10 miliar. Sebagai seorang muslim yang menginginkan ridha Allah, dian kerap mengadakan pengajian di kediamannya Jalan Masjid Al Ikhlas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Pengajian dihadiri masyarakat sekitar.

Perempuan kelahiran 14 Desember 1949 ini memang dikenal giat mensyiarkan agama Islam. Ia memulai dakwahnya degan mendirikan majelis taklim di rumahnya tahun 1995. Beranggotakan 25 orang pada awalnya, majelis taklim inilah yang kemudian menjadi embrio dakwahnya di hari-hari selanjutnya.

Bukan hanya Masjid, Jalan Raya Meruyung yang merupakan lokasi Masjid Kubah Emas dicor olehnya. Hal ini karena banyak bus yang lewat terutama pada hari libur. Bus datang dari berbagai daerah Indonesia.

Dian Al Mahri meninggal di Rumah Sakit Pondok Indah sekitar pukul 02.20 WIB, Jumat (29/3/2019). Istri dari Maimun Al Rasyid ini dimakamkan di halaman Masjid Kubah Emas, Cinere, Kota Depok.