Dara Kesohor, Seni Tari

Tari Dara Kesohor adalah tari kreasi tradisional Betawi yang menjadi pemenang dalam Lomba Karya Cipta Tari Betawi tahun 2017. Tarian ini diciptakan oleh Bathara Saverigadi Dewandoro, yang berkolaborasi dengan Udin Kacrit sebagai penata musik, serta Yani Wulandari sebagai penata rias dan busana. Para penari berasal dari Sanggar Swargaloka, sedangkan pemusik adalah team Margasari Kacrit Putra. Tarian ini mengangkat tema dari kata-kata bijak “don’t judge the book by its cover” yang bermakna “jangan menilai seseorang dari tampilan luarnya saja”. Nasihat bijak yang cukup tepat dalam menyikapi pergaulan di era digital yang sudah sangat canggih, dimana sebuah “smatphone” dapat menyulap wajah seseorang menjadi sangat cantik atau tampan, dan bisa jadi berbeda dengan aslinya. Bisa juga status “lurus” di berbagai media sosial kemudian dinilai baik oleh banyak orang, dan dianggap mencerminkan perilaku pemiliknya. Sayangnya ketika bertemu secara langsung kita dibuat terkejut karena penampilan atau sikapnya tidak sesuai dengan yang beredar di media sosial. Permasalahan inilah yang diangkat oleh Bathara Saverigadi Dewandoro dalam tari Dara Kesohor. Kata “dara” bermakna gadis atau perempuan muda, dan “kesohor” artinya terkenal. Popularitas remaja perempuan masa kini seringkali dinilai hanya berdasarkan hitungan jumlah “followers” akun media sosial yang dimilikinya, tetapi saat bertemu muka tampak sombong atau tidak sesuai dengan citra yang dibangunnya di media sosial. Jadi melalui tarian ini kita diingatkan untuk tidak menilai seseorang hanya berdasarkan fisiknya saja, karena yang tampak baik belum tentu baik, dan yang tampak jahat belum tentu jahat sifatnya. Namun bisa jadi, kesombongan seseorang yang “kesohor” atau terkenal itu justru muncul dari kesohorannya. Lingkungan pergaulan yang sesuai dengan “kelasnya” sebagai seseorang yang terkenal seringkali justru menjatuhkan. Pesan lain yang ingin disampaikan melalui tarian ini adalah agar kita berhati-hati dengan kepopuleran, dan memilih lingkungan pergaulan yang baik tanpa membedakan kelas atau kasta.

Untuk merepresentasikan maksud dan nilai-nilai dari tarian ini, sang penata tari menggunakan topeng Samba, yang dikaitkan dengan kondisi kekinian melalui simbolisasi sosok perempuan dengan unsur-unsur keseksian dan keangkuhan. Tokoh Samba dalam tari Topeng Tunggal ataupun Topeng Cirebon menggambarkan usia remaja yang cenderung emosional dan penuh semangat, dengan karakter lincah, centil, dan ceria. Gerakan tarinya lincah, dan terpatah-patah dalam irama yang cepat (stacatto). Topeng Samba dalam tarian ini menjadi simbol ekspresi kesombongan yang bisa jadi lahir karena sebuah kepopuleran, dan bukan sifat asli sang pesohor. Gadis muda yang cantik, terkenal, dan dipuja banyak lelaki, seringkali terjebak dalam kepopulerannya itu. Terlebih usia muda adalah masa-masa pencarian identitas diri dimana ego masih menguasai sikap dan perilakunya. Hal ini digambarkan melalui gerak dan gestur penari, serta dialog pemain musik sebagai pemuja si gadis muda yang kesohor. Musik pengiring tarian berupa seperangkat gamelan ajeng berlaras slendro, dengan tempo musik sebagaimana ritme gerak tarinya yang cenderung cepat dan patah-patah, terlebih olahan kendang dan kecrek memicu suasana menjadi hidup. Tempo lambat hanya sebagai jeda dalam pergantian babak atau adegan.

Busana yang dikenakan di bagian atas berupa kebaya pola lengan tiga warna dengan pilihan merah muda (pink) dipadu hijau, untuk menggambarkan kesegaran seorang gadis muda dalam karakter tari ini. Tubuh bagian bawah mengenakan  celana panjang berwarna senada dengan kebaya. Penggunaan celana panjang dimaksudkan agar pergerakan yang lebih dominan pada teknik kaki lebih terlihat. Toka-toka dikenakan untuk menutupi bagian dada, kain Batik Betawi yang memanjang hingga mata kaki untuk menutupi tubuh bagian depan, ikat pinggang (sabuk), selendang berbahan sutera yang disebut “kewer” diselipkan pada sabuk sebagai aksesori busana sekaligus properti tari, ampreng dikenakan di pinggang untuk menutupi bagian pusar sampai batas lutut, dan andong/amprog dikenakan di bagian belakang untuk menutupi panggul. Ornamen di kepala penari berupa penutup kepala “kembang topeng” dengan ukuran yang lebih kecil dari aslinya. Hal ini dimaksudkan agar ciri tari Topeng yang menjadi rujukan tari dara Kesohor  tetap terlihat. Riasan penari sederhana, menggunakan rias cantik tetapi tidak tebal berupa alas bedak, bedak, eye shadow, blash on, dan lipstick.