Ciracas, Kampung

Ciracas merupakan salah satu wilayah Kecamatan di Jakarta Timur. Ciracas diresmikan menjadi Kecamatan sejak tahun 1991 dan merupakan pemekaran dari Kecamatan Pasar Rebo. Kecamatan ini terdiri dari lima kelurahan, yakni Kelurahan Cibubur, Kelurahan Kelapa Dua, Kelurahan Ciracas, Kelurahan Susukan, dan Kelurahan Kampung Rambutan. Sebagian besar penduduknya adalah orang Betawi, dan sisanya merupakan pendatang dari Sunda, Jawa, serta Batak.

Asal usul nama Ciracas sendiri tidak diketahui secara pasti. Namun ada kemungkinan nama tersebut berasal dari nama sungai kecil yang mengalir di wilayah tersebut pada masa lalu. Di kalangan masyarakat Ciracas pada dahulu kala, terkenal kisah Mak Kopi. Konon, di kalangan masyarakat Ciracas ada cerita rakyat yang pernah terkenal yakni kisah Mak Kopi. Wanita yang memiliki darah China itu menikah dengan pemuda Betawi keturunan Demak. Saat hamil, wanita tersebut gemar sekali minum kopi dan bahkan menjadi minuman utamanya, sehingga dia dijuluki Mak Kopi. Bahkan ketika melahirkan anak laki-laki, anaknya pun diberi nama si Kopi. Konon Mak Kopi bisa hidup sampai 150 tahun.

 

 Jalan Pengantin Ali, Ciracas

Sumber: news.okezone.com

Selain itu, di wilayah ini juga tersebar mitos mengenai jalanan yang dianggap angker, yakni Jalan Pengantin Ali. Konon, jika pasangan melintas di jalan tersebut akan terkena musibah. Kejadiannya sekitar tahun 1940-an saat warga di sekitar kawasan Tanah Merdeka, Ciracas, Jakarta Timur sedang mengiringi rombongan pengantin Ali dan Ema. Sudah menjadi kebiasaan, setelah melakukan ijab Kabul, kedua mempelai diarak keliling kampung menggunakan tandu terpisah. Ketika rombongan melalui jembatan di atas Sungai Cipinang, tiba – tiba tandu yang diusung Ema oleng. Wanita yang baru saja resmi melepas masa lajangnya itu terlempar ke sungai yang kebetulan airnya sedang tinggi dan arusnya deras. Melihat sang istri barunya hanyut, Ali pun segera loncat dari tandu ke sungai tersebut. Pria itu langsung terjun ingin menyelamatkan Ema, istri yang sangat dicintainya itu. Namun takdir berkata lain, kedua mempelai justru hilang ditelan arus sungai. Saat itu, seluruh warga kampung dikerahkan untuk mencari jasad mereka. Akan tetapi, sejak itu warga tidak pernah menemukan jasad keduanya. Mereka hilang ditelan ganasnya Sungai Cipinang saat itu. Tidak lama kemudian, warga dikejutkan dengan munculnya dua batu berukuran sekitar 50 cm di tempat hilangnya pengantin tersebut. Masyarakat percaya, batu itu merupakan jelmaan jasad Ali dan Ema yang hilang saat sedang melakukan arak – arakan pengantin. Hingga sekarang, cerita itu masih tersimpan apik di benak warga sekitar yang merupakan warga asli di Pengantin Ali.

Tidak hanya memiliki cerita mitos, Ciracas juga memiliki sebuah aset Gelanggang Olah Raga (GOR) yang memiliki luas 32.860 m2 ini dibangun mulai tahun 2005, beroperasi sejak 1 Januari 2010, dan diresmikan pada tanggal 19 April 2012 oleh Gubernur DKI saat itu Fauzi Bowo. Jauh sebelum menjadi GOR nan megah, lokasi tersebut dulunya merupakan lokalisasi Boker. Lahan tersebut kemudian dibebaskan dan disulap menjadi sarana olahraga.

 

GOR Ciracas

Sumber: news.detik.com

Sebelum menjadi GOR, orang-orang mengenal tempat ini sebagai lokalisasi Boker. Nama Boker sendiri berasal dari salah satu pemilik warung makan sate dan sop. Karena warung itu biasanya dijadikan tempat istirahat para sopir-sopir pengantar barang yang melintasi Jalan Raya Bogor sebelum adanya Tol Jagorawi. Tempat tersebut menjadi kawasan lokalisasi karena para sopir yang meminta ‘wanita penghibur’ di tempat makan tersebut. Boker tidak mengabulkan permintaan para sopir, namun tetangga di sekitar kawasan tersebut mendengar dan membuka warung minuman lengkap dengan ‘wanita penghibur’. Dari situlah awal mula kawasan tersebut menjadi kawasan lokalisasi.