Cerita Si Entong

Pada jaman dahulu, di sebuah kampung terdapat seorang bernama Entong. Ayahnya bernama Bang Mamat yang dikenal sebagai orang yang tidak memiliki kelakuan baik. Bang Mamat suka sekali bermain top (main judi kartu), tidak menjalankan kewajiban agama (puasa, shalat, dan lain-lain), serta suka melakukan pencurian. Tindakan kriminal yang ia lakukan belum pernah dapat dibuktikan, namun orang-orang sudah mencap Bang Mamat sebagai pencuri.

Suatu hari ketika Bang Mamat akan meninggal dunia, ia berpesan kepada Pok Mumun yang merupakan istri Bang Mamat sekaligus ibu dari Entong menginginkan anaknya menjadi orang baik yang dapat mengaji dan taat menjalankan perintah agama (puasa, shalat, mengaji dan lain-lain). Oleh karena itu, setelah ia meninggal Pok Mumun harus mengantar si Entong ke rumah Uztad Rojali yang biasa disapa Guru Rojali untuk mengajarkan belajar baca Al-Qur’an dan belajar ilmu agama lainnya.

Beberapa hari setelah Bang Mamat meninggal dunia, Pok Mumun mengantarkan Entong yang baru berusia delapan tahun ke rumah Guru Rojali. Pok Mumun memohon agar Guru Rojali mau mengajar  si Entong menjadi anak baik-baik, tidak seperti ayahnya. Di dalam hati Guru Rojali, sebenarnya ia tidak mau mengajar si Entong karena mengingat ayahnya bukan orang baik-baik. Guru Rojali berprasangka jangan-jangan si Entong pun akan seperti ayahnya. Namun, akhirnya Guru Rojali pun bersedia mengajar si Entong.

Tempo dulu, dalam masyarakat Betawi tidak perlu membayar atau memberi upah untuk belajar mengaji. Hanya saja, para murid biasanya diminta untuk membantu sang Guru menyelesaikan pekerjaan rumah. Misalnya menimba air, mencari empanan (makanan) untuk ternak kambing atau binatang lain, mencuci piring, menyapu halaman, dan sebagainya.

Hari pertama Entong belajar mengaji, ia disuruh oleh Guru Rojali untuk nambus (membakar dalam bara api) 10 butir biji beton (biji nangka) yang merupakan kedoyanan Guru Rojali. Dengan patuh Entong menjalankan tugas tersebut. Sesudah mateng ia segera mengantarkan biji beton tersebut kepada Guru Rojali. Namun entah apa penyebabnya, semula jumlah biji beton ada 10 ternyata tersisa 9 buah. Dalam hati Guru Rojali melihat kenyataan ini menjadi timbul prasangka, “dasar anak pencuri, biji beton ada 10 sudah tinggal sembilan”. Namun Guru Rojali tidak berkata apa-apa. Sesudah makan ia mulai mengajar si Entong.

“Entong!” katanya, “mari kita mulai belajar! Ikuti ucapan saya! A’uzu billahi minas syaiton nirrojim!”

Lalu Entong menirukan ucapan tersebut dengan baik.

“Lagi!” perintah Sang Guru; dan si Entong mengulanginya dua-tiga kali.

“Sekarang, dengarkan baik-baik!” kata Guru Rojali, “dan tirukan!”

“Bismillahir rohma nirrohim!”

Lalu, si Entong pun mengulangi ucapan itu beberapa kali. Lalu kata Guru Rojak lagi.

“Sekarang, dengarkan dan ulangi beberapa kali, beton 10 hilang satu tinggal sembilan”

Si Entong pun dengan serius menirukan ucapan, “Beton 10 hilang satu, tinggal sembilan,” ujarnya sampai beberapa kali.

“sekarang dengar dan tirukan,” kata Guru Rojali. “Shodaqollahu aliyun azim.”

Si Entong dapat mengulangi ucapan itu dengan baik.

Kemudian kata Guru Rojali dengan tenang, “Sekarang pengajian selesai; tapi kamu harus mengulangi baik-baik di rumah pengajian tadi. Kamu boleh pulang dan besok pagi datang lagi!”

Esoknya si Entong datang lagi dan seperti kemarin dia diberi tugas nambus biji beton 10. Lalu, anehnya kemudian biji beton itu tinggal sembilan. Dalam hati Guru Rojali betul-betul menuduh si Entong sebagai anak orang jahat dengan mengambil satu biji beton. Oleh karena itu,  pelajaran yang diberikan juga sama dengan kemarin.

“Beton 10 hilang satu tinggal sembilan.”

Lalu pada hari-hari berikutnya kejadian “Beton 10 hilang satu tinggal sembilan” terjadi lagi.

Sampailah pada musim haji, Guru Rojali ikut pergi haji. Dengan  diantar oleh beberapa orang, beliau berangkat ke Tanjung Priok. Si Entong tidak diberitahu sehingga ketika ia mau datang ngaji, gurunya sudah tidak ada. Ia sangat sedih karena belum sempat mencium tangan dan membawakan tas gurunya. Karena itu, ia ingin sekali menyusul ke Tanjung Priok.

Sesudah mengucapkan yang diajarkan gurunya, “Beton 10 hilang satu tinggal sembilan,” tahu-tahu ia sudah berada di pelabuhan Tanjung Priok. Namun, sayang ternyata kapal yang membawa Guru Rojali sudah berangkat. Si Entong ingin sekali mengejar Guru Rojali. Maka itu, dengan khusyuk dibacanya lagi amalan, “Beton 10 hilang satu tinggal sembilan.” Lalu, tahu-tahu ia  sudah berada di pelabuhan Jedah, tiba lebih dulu dari Guru Rojali.

Beberapa hari  kemudian datanglah kapal yang ditunggu. Si Entong cepat-cepat berdiri di dekat tangga kapal. Tidak lama kemudian, tampaklah Guru Rojali turun. Si Entong segera menghampiri, mencium tangan sang guru.

Betapa kagetnya Guru Rojali dan terheran-heran bertemu dengan si Entong. Kemudian ia bertanya, “bagaimana si Entong bisa sampai di Jeddah?” dengan hormat si Entong menjawab bahwa ia melafalkan ajaran sang Guru “Beton sepuluh hilang satu tinggal sembilan,” maka sudah di Jeddah.

Guru Rojali baru sadar  bahwa ia selama ini salah menilai pribadi si Entong. Selama ini ia menuduh bahwa si Entong adalah anak jahat, pencuri seperti bapaknya karena beton sepuluh selalu diambil satu tinggal sembilan. Guru Rojali sangat menyesal. Penyesalan ini selalu berlangsung hingga pulangnya ia ke Betawi. Hampir setiap hari ia menangisi kekeliruannya sehingga matanya menjadi buta.

Dari cerita ini memberikan pesan, bahwa orang dari lingkungan yang buruk belum tentu menjadi buruk karena baik dan buruk itu ditentukan oleh Allah. Kita sebagai manusia, tidak boleh berprasangka buruk dengan sesama.