Cerita Pepes Tai Burung

Pada jaman dahulu, terdapat sebuah legenda Betawi yang berjudul Pepes Tai Burung. Legenda ini bercerita tentang kehidupan Pak Mahmud yang merupakan orang kaya di kampungnya. Secara ekonomi, Pak Mahmud dikatakan berhasil. Ia memiliki banyak harta, uang yang banyak, rumah yang besar, dan kebun yang luas. Namun sayangya, dalam mendidik anak-anaknya ia tidak berhasil. Anak Pak Mahmud ada tiga orang yaitu Mamat, Mamit, dan Mina. Anak-anak Pak Mahmud yang hidup dalam kondisi serba berkecukupan ini ternyata tumbuh menjadi anak-anak yang tidak baik. Mereka mengharapkan sekali agar Pak Mahmud cepat meninggal. Jika Pak Mahmud meninggal, mereka akan membagi-bagi harta ayahnya untuk kesenangan mereka.

Memikirikan tingkah laku anak-anaknya, Pak Mahmud jatuh sakit. Sakitnya Pak Mahmud tidak membuat anak-anaknya sedih, mereka malah menjadi senang, dan mereka mengharapkan semoga Pak Mahmud segera meninggal.

Pada suatu pagi, Pak Mahmud memanggil ketiga anaknya.

“Mamat, Mamit, dan Mina!” kata Pak Mahmud, “kalian sayang tidak sama Babe?”

Mendengar pertanyaan ini, mereka saling berpandangan, dan sesaat serentak menjawab.

“Ya, Be, kita semua sayang Babe!”

“Kalau kalian sayang sama Babe,” kata Pak Mahmud lagi, “sebelum Babe meninggal, Babe ingin sekali makan pepesan tai burung.”

“Ape, Be? Pepesan tai burung?” ketiganya serentak berkata. Lalu, Mamat berkata, “Be, coba yang lainnya, seperti pepes tahu, pepes oncom, atau pepes ikan teri.”

“Ya, tapi Babe inginnya pepes tai burung,” sahut Pak Mahmud, “kalau-kalau kalian betul sayang sama Babe, tolonglah dibuatkan.”

“Kalau Babe inginnya begitu,” kata Mamat, “baiklah nanti kita buatkan!”

Singkat cerita Mamat dan Mamit segera pergi ke kebun untuk mencari kotoran burug. Sekitar satu jam mereka telah berhasil mengumpulkan kira-kira sepiring tai burung. Lalu kotoran burung diserahkan kepada Mina untuk dimasak menjadi pepesan. Dalam waktu setengah jam, pepesan itu siap untuk disantap.

“Be,” kata si Mamat anak sulung, “nih pepesnya sudah jadi.”

“Bawa sini,” sahut Pak Mahmud, “coba dibuka.”

“Ya, Be,” sahut Mamat, “tapi masih panas.”

Setelah pepesan itu dibuka dan ditiup-tiup agar cepat dingin, Pak Mahmud berkata, “Nah sekarang kalian semua cicipi dulu pepes itu.”

“Apa, Be?” tanya Mamit, “kita cicipi dulu?”

“Ya, kalau kalian emang sayang sama Babe, coba di cicipi dulu.”

Mamat, Mamit dan Mina saling berpandangan mendengar permintaan ayahnya itu. Lalu karena mereka memang mengharapkan ayahnya cepat mati, maka permintaan ayahnya itu dituruti. Masing-masing mengambil sejumput dan memasukan ke dalam mulut.

“Bagaimana rasanya?” tanya Pak Mahmud, “enak tidak?”

“Wah, tidak enak, Be,” sahut ketiganya serentak.

“Nah, kalau kalian yang sehat saja merasa tidak enak, apalagi Babe yang sedang sakit,” komentar Pak Mahmud.

Dari cerita legenda ini, kita dapat mengambil pesan bahwa setiap orang tua harus mendidik anaknya dengan benar. Anak jangan dimanjakan dengan harta yang melimpah. Jika anak terlalu dimanjakan dengan harta yang melimpah, kelak anak tidak akan tumbuh berperilaku baik.