Cerita Nasib Si Gayung Pucung

Gayung itu adalah alat untuk  menciduk air atau menciduk zat lainnya. Tempo dulu, gayung yang digunakan untuk menciduk air dari bak mandi atau dari tempayan dibuat dari batok (tempurung) kelapa. Gayung yang terbuat dari kaleng sangat jarang, bahkan saat ini gayung terbuat dari plastik. Untuk menciduk barang cair yang volumenya sedikit, seperti santan atau air gula, seperti yang digunakan  oleh penjual cendol dan cingcau, dibuat dari batok (tempurung) buah pucung (klowak, buah kepayang). Oleh karena itu, gayung tersebut disebut sebagai gayung pucung. Dengan gayung pucung, volume benda cair yang dapat diciduk mungkin hanya sedikit setara satu sendok makan. Jika menciduknya berulang-ulang pun hasilnya juga tidak banyak. Apabila untuk menciduk air dari bak mandi, dari tempayan, dari empang, dari sungai, dan dari laut pun hasilnya tidak akan banyak.

Hal yang dapat kita peroleh dari cerita Gayung Pucung ini adalah, Orang Betawi jaman dahulu percaya bahwa banyaknya rejeki setiap orang sudah ditentukan oleh Allah. Kalau rejeki yang sudah ditentukan sedikit meskipun dia rajin bekerja atau bekerja di tempat yang banyak uang, hasil yang diperoleh pun tetap tidak banyak. Sebaliknya, jika sudah digariskan mendapatkan rejeki yang banyak maka akan dengan mudah sekali mendapatkan rejekinya.