CERITA BANG TOING

Pada masyarakat Betawi tempo dulu terdapat cerita rakyat tentang Bang Toing. Bang Toing nama sebenarnya adalah Muhammad Tohir, tetapi ia orang-orang memanggilnya dengan sebutan Toing. Bentuk punggungnya yang membungkuk juga menbuat orang-orang menyebutnya sebagai Toing Bongkok. Setelah dewasa, orang-orang memanggilnya dengan Bang Toing Bongkok.

Bentuk punggung Bang Toing yang membungkuk adalah bawaan sejak lahir. Selain bungkuk, kakinya pun agak pincang. Jika ia berjalan, badannya bergoyang ke depan ke belakang, dan ke kiri ke kanan, seperti orang menari-nari. Pada suatu malam, entah dari mana perginya, Bang Toing pulang kemalaman. Ia harus melewati salah satu tempat yang dihuni oleh banyak jin. Pada saat itu para jin sedang bergembira, mereka menari-nari sambil menyanyi-nyanyi.

Ketika melihat Bang Toing melintas dengan jalannya yang bergoyang-goyang, para jin berpikir bahwa Bang Toing ikut bergembira. Kemudian Bang Toing ditarik ke tengah para jin untuk menari bersama. Salah seorang jin memeluk Bang Toing dan menepuk-nepuk punggungnya. Tiba-tiba punggung Bang Toing menjadi lurus dan kakinya yang pincang pun dapat berjalan dengan normal. Ketika Bang Toing meninggalkan tempat tersebut, di saku celananya dimasukan segepok uang kertas oleh seorang jin.

Keesokan harinya, para tetangga terheran-heran melihat tubuh Bang Toing yang sudah tidak membungkuk dan tidak pincang lagi, serta memiliki banyak uang. Bang Toing menceritakan kepada tetangganya segala pengalaman yang dialaminya tadi malam dengan para jin itu. Di antara pendengar cerita Bang Toing adalah Bang Jalil, ia merupakan seorang pemuda yang suka sekali iri dengan keberuntungan orang lain. Diam-diam ia berencana melewati tempat yang dihuni oleh banyak jin. Ia minta dijelaskan secara rinci di mana tempat para jin tersebut.

Pada malamnya, Bang Jalil pergi ke tempat para jin. Ketika melintas di depan para jin, ia bernyanyi-nyanyi kegirangan. Seorang jin yang tampaknya sedang sedih mendekatinya, lalu memukul punggung Bang Jalil. Seketika punggung Bang Jalil menjadi bungkuk dan kakinya menjadi pincang. Dan kemudian jin tersebut mengusir Bang Jalil untuk segera pergi. Pada saat itu para jin sedang berduka karena ada salah satu keluarga mereka yang meninggal.

Pesan yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah, kita tidak boleh iri dengan keberuntungan orang lain. Jika kita iri dengan keberuntungan orang lain, belum tentu kita dapat memperoleh keberuntungan yang sama dengan orang lain.