Cengkareng, Kampung

Cengkareng merupakan salah satu nama kecamatan di wilayah Jakarta Barat. Nama Cengkareng cukup terkenal lantaran di wilayah ini terdapat sebuah landasan pesawat terbesar di Jakarta. Belum ditemukan nama asal-usul yang tepat untuk wilayah ini. Namun terdapat informasi yang menyatakan bahwa nama Cengkareng berasal dari bahasa Sunda Cingkangkareng. Ci merujuk pada Cai yang dikaitkan dengan anak sungai seperti Ci liwung, Ci sadane, Ci keas. Sedangkan Kangkareng dalam bahasa Sunda merupakan semacam burung enggang yang paruhnya bercula. Dalam Regerings Almanak 1881, tanah Cengkareng ini dimiliki oleh perusahaan Belanda Firma Brijinst en Vinju yang disewakan kepada Tan Oen Tjong.

Tanah Cengkareng menjadi milik Michiel Romp yang merupakan pejabat tinggi VOC di Batavia pada paruh kedua abad ke-18. Ia membangun rumah bertingkat dua dengan gaya Indis, terbuka di bawah, dan tetutup pada bagian atas. Rumah tersebut ia bangun pada tahun 1762 dan sayangnya rumah tersebut hangus terbakar menjadi korban revolusi pada tahun 1945. Menurut peta Holle dalam Ruchiat (2018), sampai akhir abad ke-19 pendudukan Cengkareng, Kebon Jeruk, dan Kebayoran Lama masih menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan sehari-hari. Tanah Cengkareng sendiri memiliki hasil bumi berupa padi, kelapa, dan rumput.

Dahulu kawasan Cengkareng berupa persawahan dan sebagian lagi perkampungan. Karena wilayah yang cukup luas dengan sedikit pemukiman warga, wilayah ini pun dibangun landasan pesawat pengganti Bandara Kemayoran. Presiden Soeharto mengeluarkan inpres pada 1 Oktober 1984 untuk memindahkan bandar udara dari Kemayoran ke Cengkareng. Bandara Cengkareng mulai beroperasi secara penuh pada 1 April 1985 dan diresmikan pada 5 Juli 1985 dengan nama ‘Bandara Internasional Soekarno Hatta’.