Cakwe, Kuliner

Cakwe sangat populer di Jakarta, Medan, Bandung, dan banyak daerah lainnya, dimana bermukim masyarakat keturunan Tionghoa. Jajanan ini dijual mulai kelas gerobak dorong yang berkeliling kampung atau mangkal di tempat-tempat umum yang ramai, rumah makan, mal, bahkan restoran. Cakwe yang ditawarkan termasuk kuah tentu sesuai standar kelasnya. Meski jajanan ini sangat populer di Indonesia, namun tidak semua orang mengetahui sejarah panjang dibalik sepotong cakwe. Biasanya orang hanya tahu bahwa cakwe merupakan bahan campuran bubur ayam. Tekstur cakwe yang berongga dengan dua bagian yang melekat, tetapi bisa ditarik hingga lepas juga memiliki arti tersendiri.

Cahkwe (Hanzi: 油条, Pinyin: Yóutiáo), cakhwe, atau cakwe adalah makanan tradisional masyarakat Tionghoa, yang dalam dialek Hokkian berarti “hantu yang digoreng” (Hanzi: 油炸鬼, Pinyin: Yóu zhá guǐ). Cakwe  berbahan dasar tepung terigu, ragi, soda, ammonium bikarbonat, dan garam. Adonan jika sudah mengembang dibuat seperti tongkat yang panjangnya kira kira 15-20 cm, lalu dua tongkat dilekatkan menjadi satu. Jika digoreng panjangnya menjadi kira kira 25 cm dan berwarna coklat. Ada dua variasi cakwe, asin atau gurih dan manis. Cakwe gurih berbentuk panjang, sedangkan cakwe manis berbentuk persegi dengan bagian tengah melembung seperti bantal. Di Jakarta orang mengenalnya sebagai kue bolang baling atau kue bantal. Di Surabaya dan Bandung dikenal sebagai odading.

Cakwe disajikan dengan gaya yang berbeda-beda. Di Solo, cakwe disajikan bersama susu kedelai. Di Medan dan Bandung, cakwe disajikan bersama sambal asam cair atau sambal kacang cair. Cara menyantapnya dengan dicelupkan ke dalam sambal terlebih dahulu. Di Pontianak dan Ketapang (Kalimantan Barat), cakwe umumnya bercita rasa  manis dan kenyal, dihidangkan bersama lek taw zuan atau mutiara kacang hijau dalam bahasa Tiociu. Lek taw zhuan terbuat dari kacang hijau yang dibuang kulitnya, lalu dikukus dengan daun pandan. Setelah matang kacang hijau diberi gula kental, sedangkan cakwenya diiris tipis-tipis. Di Jakarta sendiri ada yang lebih suka menyantap cakwe tanpa kuah, tergantung selera. Biasanya cakwe asin atau gurih dijajakan bersama cakwe manis.

Nama “cakwe” berkaitan erat dengan sejarah masa dinasti Song di Tiongkok, dimana terjadi perpecahan yang menyebabkan terbaginya kekuasaan menjadi Song Selatan dan Song Utara. Ketika Kaisar Gong (Kang) dari Song Selatan berkuasa, suku Jin yang ada di Utara menyerang dan menduduki sebagian besar sungai Chang Jiang (Yang Tse). Namun Jenderal Yue Fei (Gak Hui dalam bahasa Hokkian) berhasil mengatasi serangan dan mengambil alih kota-kota yang dikuasai tentara berkuda suku Jin. Jenderal Yue Fei mempunyai kemampuan mumpuni dalam bela diri. Ia dihormati dan disegani karena kehebatannya di medan perang.  Jiwa patriotik sang jenderal tergambar dari tato di bagian punggung yang dibuat sendiri oleh ibunya dengan disaksikan sang isteri. Tato bertuliskan empat huruf Jin Zhong Bao Guo yang artinya segenap hati setia dan membela negara. Rakyat memuja kehebatan dan kebijaksanaan Jenderal Yue Fei. Namun kehebatan dan kepopulerannya menimbulkan rasa iri perdana menteri Qin Kuai (Chin Kwe). Ia pun menebar fitnah dan menyampaikan kepada kaisar bahwa sang jenderal akan memberontak, dengan mengangkat kembali kaisar sebelumnya jika berhasil menghabisi suku Jin. Jenderal Yue Fei kemudian dipanggil pulang, padahal posisi sang jenderal hanya tinggal 22 km dari ibu kota lama yang ingin direbutnya kembali. Akhirnya fitnah perdana menteri membawa Jenderal Yue Fei pada hukuman mati.

Kematian Yue Fei atau Gak Hui tidak diterima oleh rakyat. Mereka marah tetapi tidak bisa berbuat apa- apa, tidak berani protes di depan umum, dan tidak berani beraksi. Konon seorang bibi tua yang sangat marah pada kelakuan Chin Kwe dan isterinya, meluapkan emosi dengan membuat makanan dari adonan tepung terigu, yang melambangkan Chin Kwe dan isterinya. Kedua bentuk kue kemudian disatukan sebagaimana model cakwe sekarang. Ketika kue mau digoreng, bibi tua kembali marah-marah dan mengatakan "Cha Kwe, Cha Kwe", yang artinya “bunuh Kwe, bunuh Kwe”. Dahulu kue ini dinamakan Yu Zha (goreng dengan minyak) Qin Kuai, lalu diringkas menjadi Yu Zha Kuai (Yu Cah Kwe dalam bahasa Hokkian), dan akhirnya menjadi Cah Kwe atau Yutiao (Mandarin). Bentuk dan nama kue ini merupakan simbolisasi kebencian rakyat atas Qin Kuai (Chin Kwe).

Cakwe Gurih

Bahan:

  1. 2 sendok teh ragi instan
  2. 200 ml air
  3. 250 gram tepung protein sedang
  4. 50 gram tepung protein rendah
  5. 1 sendok makan gula pasir
  6. 1 sendok teh garam halus
  7. 1 siung bawang putih dihaluskan (opsional)
  8. ½ sendok teh soda kue
  9. Minyak goreng secukupnya

Cara membuat:

  1. Campurkan ragi instan dengan air, diamkan.
  2. Campur semua bahan kering dan bawang putih, tuangi larutan ragi instan.
  3. Uleni adonan sampai kalis, kemudian tutup dengan kain lap bersih selama 15 menit.
  4. Uleni kembali adonan, bulatkan, kemudian tutup dengan kain lap. Diamkan selama 6 jam agar mengembang.
  5. Taburi papan untuk menggilas adonan dengan terigu, kemudian giling adonan hingga mencapai ketebalan ½ cm. Potong-potong ukuran 2 x 10 cm.
  6. Ambil adonan yang sudah dipotong, taburi tepung sedikit, kemudian tumpuk dengan adonan lain. Tekan bagian tengahnya menggunakan sumpit.
  7. Tarik adonan cakwe sampai sedikit melar, kemudian goreng di dalam minyak panas hingga matang. 

Cakwe Gurih khas Medan dan Bandung

Bahan:

  1. 2 sendok teh ragi instan
  2. 200 ml air
  3. 250 gram tepung protein sedang
  4. 50 gram tepung protein rendah
  5. 1 sendok makan gula pasir
  6. 1 sendok teh garam halus
  7. 1 siung bawang putih dihaluskan (opsional)
  8. ½ sendok teh soda kue
  9. Minyak goreng secukupnya

Bahan saus:

  1. 3 sendok makan gula pasir
  2. ½ sendok teh garam
  3. 1 sendok makan saus sambal botol
  4. 1 sendok makan saus tomat botol
  5. 1 siung bawang putih dihaluskan
  6. 1 sendok teh tepung maizena, larutkan dengan air 2 sendok makan

Cara membuat:

  1. Campurkan ragi instan dengan air, kemudian diamkan.
  2. Campur semua bahan kering dan bawang putih, kemudian tuangi larutan ragi instan.
  3. Uleni adonan hingga kalis, lalu tutup dengan kain lap bersih selama 15 menit.
  4. Uleni kembali adonan, bulatkan, kemudian tutup dengan kain lap. Diamkan selama 6 jam agar mengembang.
  5. Taburi papan untuk menggilas adonan dengan terigu, kemudian giling adonan hingga mencapai ketebalan ½ cm. Potong-potong ukuran 2 x 10 cm.
  6. Ambil adonan yang sudah dipotong, taburi tepung sedikit, kemudian tumpuk dengan adonan lain. Tekan bagian tengahnya menggunakan sumpit.
  7. Tarik adonan cakwe sampai sedikit melar, kemudian goreng di dalam minyak panas hingga matang.
  8. Saus: Rebus gula pasir, garam, saus sambal, saus tomat, dan bawang putih menggunakan air panas. Tuangi larutan tepung maizena, rebus hingga meletup-letup.