Cakung, Kampung

Stasiun Cakung

Sumber: https://www.antarafoto.com

Cakung merupakan salah satu nama kecamatan di wilayah Jakarta Timur. Lokasi kecamatan ini berada di perbatasan antara Provinsi DKI Jakarta dengan Jawa Barat. Nama Cakung diambil dari nama anak sungai yang mengalir di wilayah ini, Kali Cakung. Sungai ini pernah dijadikan garis batas di markas wilayah kekuasaan Republik Indonesia dengan kekuasaan Sekutu (Inggris). Bagian timur kali dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia, sedangkan bagian barat kali sampai Jakarta dikuasai Sekutu atas dasar undang-undang perang. Kata Cakung berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti katak pohon atau katak terbang yang dikenal dengan nama latin Rhacaphorus.

Pada tahun 1686, tanah di wilayah ini merupakan milik seorang pejabat tinggi VOC di Batavia yaitu, Johannes Cops. Kemudian pada tahun 1711 tanah ini berpindah tangan menjadi milik Elisabeth janda dari Kapten Johan Ruys. Pada tanggal 28 November 1778, Soedjar membeli sebagian tanah Cakung. Soedjar merupakan seorang vaandrig (pejabat militer VOC di bawah letnan) Jawa. Akhirnya setelah berpindah-pindah tangan, kemudian tanah ini tercatat menjadi milik Kauw Tjeng Tjoan pada tahun 1881. Berakhirnya pemerintahan kolonial Belanda, pada tahun 1942 berakhir pula riwayat tuan tanah dan tanah partikelir di Indonesia termasuk tanah partikelir di wilayah Cakung, Jakarta Timur.

Benteng Sembilan di Cakung

Sumber: https://www.merdeka.com

Cakung memiliki sebuah tempat bersejarah yang saat ini sudah tidak dilirik oleh banyak orang. Benteng Sembilan merupakan salah satu tempat bersejarah perjuangan yang berada di Kampung Petukangan, Rawa Teratai. Pada jaman Belanda, Benteng Sembilan merupakan benteng timur wilayah Batavia sekaligus gudang peluru. Benteng tersebut kini nasibnya sudah terbengkalai, ditutupi pohon, ilalang dan tumpukan karung.