Caca Gulali, Warisan Budaya Tak Benda

Permainan caca gulali adalah permainan anak betawi yang menggunakan nyanyian. BIasanya dimainkan oleh 4-6 orang anak. Sebelum permainan dimulai harus dicari dulu pemain yang akan menjadi “penjaga/jaga” melalui undian (hompimpa, gamsit, dll). Pemain yang jaga harus menelungkup menghadap lantai dan menutup wajahnya. Pemain yang lain duduk melingkari pemain yang jaga.

Permainan diawali dengan pemimpin permainan yang akan memindahkan batu kecil dari tangan peseta yang satu ke tangan peserta yang lain, sambil menyanyikan lagu caca gulali. Pada saat syair sampai pada kalimat “anak raja berpayungan”, maka pemimpin permainan akan meletakkan batu kecil tadi pada salah seorang pemain untuk disembunyikan; Dalam praktiknya batu kecil dapat saja diletakkan pada saat nyanyian berlangsung yang tujuannya mengecoh yang jaga dalam menebak pemain yang diberi batu.

Selanjutnya pada saat syair lagu “guncir riwiw riwir”, seluruh peserta menyanyikan bersama-sama sambil menggerak-gerakkan tangannya yang dikepalkan keluar/kedepan dan ke dalam/mendekati badan secara bergantian kanan dan kiri. Gerakan seperti ini sebagai tanda memberi kesempatan pemain yang jaga untuk menebak pemain yang diberikan untuk menyembunyikan batu. Jika belum tertebak, maka pemain tadi masih menjadi pemain yang jaga. Biasanya pemain yang jaga sudah berpengalaman, tidak hanya melihat gerakan kepalan tangan dari pemain lain, tapi juga melihat mimik wajah dan ekspresi dari pemain tersebut. Pemain yang “menyimpan batu biasanya akan salah tingkah jika terus diperhatikan wajahnya oleh pemain yang jaga.