BUSANA SUNAT

Masyarakat Betawi yang menganut agama Islam yang taat ini , menjadikan sunatan sebagai bagian penting dari upacara adat Betawi. Di Betawi bagian Tengah, orang-orang yang mampu membuat acara sunatan ini semeriah mungkin terutama bagi putra pertama. Pada awal acara si anak akan dibawa keliling kampung dengan cara naik kuda atau becak, kudanya dihias di atas pelana diletakkan sajadah yang menyerupai permadani, lalu si anak calon pengantin sunat didudukan di atas pelana kuda.

Pakaian sunat pada masyarakat Betawi Udik, anak-anak yang disunat akan mengenakan pakaian wayang dan mengambil pakaian tokoh Gatot Kaca. Pengguna busana semacam ini menimbulkan keheranan, karena tokoh tersebut merupakan cerita yang berasal dari agama Hindu bukan Islam. Di daerah Betawi Tengah dan Betawi Pinggir pakaian sunatan berbentuk baju sadariah dan kupiah karena didominasi oleh agama Islam. Namun sebelumnya si anak yang akan disunat didandani terlebih dahulu sebagaimana layaknya seorang pengantin. Busana yang dipakai adalah dandanan cara haji, yang terdiri dari alpie, dan jubah serta gamis yang kesemuanya berukuran kecil dengan sepatu berpantopel.