BUSANA CENTENG

Masyarakat Betawi tempo dulu mengenal apa yang disebut centeng. Centeng adalah penjaga merangkap tukang pukul dari orang-orang kaya atau tuan tanah. Mereka adalah para jawara yang berprofesi sebagai centeng. Pada umumnya pakaian mereka adalah baju kampret berwarna hitam dengan kancing jepret model baju sadariah model leher tali sepatu, atau lebih dikenal dengan daun tikim. Memakai celana pangsi hitam yang dilipat serta digulung sebagaimana memakai kain, karena celana ini bentuk atasnya tidak memakai tali atau karet sebagaimana celana kolor, beralas kaki sandal terompah, dilengkapi tentunya dengan cincin batu akik serta gelang bahar. Celana pangsi ini berasal dari daratan China, semua ahli gisau (pesilat) akan memakai celana ini bila sedang mengadakan latihan. Bagian atas celana ditutup dengan ban pinggang besar dari kulit dan berkantung model tutup silang. Ban ini berguna pula sebagai tempat untuk menyelipkan golok mereka yang biasanya berada di pingang kiri.

Ujung golok nongol keluar dengan posisi 90 derajat, ini berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan tangan mereka dan siap digunakan dalam keadaan darurat karena posisinya yang nongol keluar. Pada umumnya para centeng adalah penduduk setempat, karena mereka lebih mengenal lingkungannya sendiri demikian pula sebaliknya para penduduk mengenal siapa dirinya (centeng). Anak buahnya bisa saja diambil dari luar kampungnya, diistilahkan dengan nyambet. Memakai ikat kepala dari kain hitam disebut setangan kepala.