Bundaran Hotel Indonesia, Situs Ingatan Tragedi Mei 1998

 

Bundaran Hotel Indonesia
Lokasi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat

 

Bundaran Hotel Indonesia (HI), atau ada yang menyebutnya sebagai Monumen/Tugu Selamat Datang berada di tengah kota Jakarta, tepatnya dipersimpangan antara Jalan MH. Thamrin, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kebon Kacang, Jalan Sutan Syahrir dan Jalan Imam Bonjol. Bundaran HI di masa lalu adalah wilayah perkebunan sayur yang ditanami oleh petani asal Bogor dengan menggunakan sistem bagi hasil. Sebagian lain dari wilayah ini merupakan kawasan rawa-rawa menurut H. Irwan Syafi’ie (Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi saat itu) dalam Shabab, 2002. Dulunya daerah ini disebut sebagai Kebon Sayur, karena banyak memproduksi sayur mayur. Masyarakat di wilayah ini merupakan mereka yang berasal dari kalangan pekerja dan pedagang.

Bundaran HI ini dibangun ketika Jakarta terpilih menjadi tuan rumah dari acara besar olahraga Asian Games IV di tahun 1962 bersamaan waktunya dengan pembangunan Hotel Indonesia. Acara Asian Games ini diikuti oleh 58 negara Asia. Bundaran HI ini dihiasi oleh Monumen Selamat Datang yang patungnya diciptakan oleh Henk Ngantung, Wakil Gubernur Jakarta di tahun 1960-1964 yang kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta di tahun 1964-1965. Patung yang dibuat oleh Henk menggambarkan pasangan pemuda-pemudi Indonesia yang memberikan sambutan selamat datang. Tangan pemudi memegang rangkuman bunga sebagai lambang keramahan bangsa Indonesia.

Ide pembangunan monumen ini berasal dari ide Presiden Soekarno (Bung Karno) disertai dengan nilai filosofis keterbukaan bangsa Indonesia dalam menyambut para tamu sebagai latar belakangnya. Tinggi patung dari kepala hingga kaki mencapai 5 meter, sedang tinggi keseluruhan hingga ujung tangan 7 meter, tinggi dudukan 10 meter. Pembangunannya dikerjakan oleh PT. Pembangunan Perumahan. Proses pembuatan dibuat dua kali, yang pertama dibuat 7 meter, namun Bung Karno ingin diperkecil menjadi 5 meter. Bundaran dan monumen ini diresmikan bersamaan dengan Asian Games tahun 1962.

Bundaran HI menjadi tempat berkumpulnya massa sejak lama, baik saat-saat pesta menyambut HUT DKI Jakarta, HUT Proklamasi Kemerdekaan RI maupun kemeriahan lain, seperti pawai dan tahun baru. Dalam Peta Ingatan Tragedi Mei yang dibuat oleh Komnas Perempuan, Bundaran HI menjadi salah satu titik yang mewakili peristiwa Mei 1998. Tempat ini selain menjadi icon kota Jakarta, juga biasanya dipilih untuk melakukan aksi dan menyuarakan aspirasi masyarakat sipil kepada pemerintah agar memberikan keadilan bagi sejumlah pelanggaran yang kerap terjadi di Indonesia.

Di tahun 1966 saat dibubarkanya PKI melalui Supersemar pada 11 Maret, ratusan ribu massa rakyat DKI Jakarta melampiaskan kegembiraannya, seperti berada dalam pesta rakyat di tempat ini mengelu-elukan ABRI yang dinilai berjasa dalam menumpas pemberontakan G30S/PKI. Kemudian di masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin setiap menjelang HUT DKI diadakan malam muda-mudi selama semalam suntuk. Dari Monas hingga Bundaran HI dibangun sekitar 20-30 panggung terbuka. Pada masa Nasakom, pawai-pawai parpol yang menunjukkan kekuatan massanya juga selalu mengelilingi Bundaran HI, seperti dituliskan dalam Shahab, 2002. Pada masa reformasi Mei 1998, Bundaran HI juga menjadi tempat berkumpulnya massa mahasiswa dan masyarakat berdemo menuntut agar Dwi-fungsi ABRI dicabut. Lalu ketika akan memasuki era Presiden Megawati, tempat ini juga pernah menjadi tempat pengumpulan/konsentrasi massa untuk mendukung calon presiden masing-masing massa pendukungnya ketika kampanye pemilihan umum. Bahkan ada beberapa orang yang nekat menaiki monumen Selamat Datang, yang bersama tempat dudukannya yang pada saat itu setinggi 17 meter untuk memancangkan bendera partai politik masing-masing pendukung.

Ketika masa pemerintahan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, ia kembali menggunakan konsep yang sama dengan acara Malam Muda-Mudi di era Gubernur Ali Sadikin, sepanjang Jalan MH Thamrin hingga Bundaran HI dipenuhi oleh kegiatan kesenian yang ditampilkan diatas beberapa panggung yang berjajar di sepanjang jalan hingga Bundaran HI. Malam Muda-Mudi di era Gubernur Jokowi ini diadakan diantaranya pada saat Ulang Tahun Kota Jakarta dan menjelang pergantian tahun baru dengan nama Jakarta Night Festival.

Bundaran HI kemudian direnovasi pada tahun 2012 oleh Pemprov DKI Jakarta, namun pengerjaannya dikerjakan oleh PT. Jaya Konstruksi Manggalla Pratama. Peremajaan kembali ini terjadi dengan meninggikan posisi monumen menjadi 30 meter dengan dua pilar beton dengan patung menjadi 7 meter berada di sumbu dari lingkaran piring raksasa kolam air mancur, dengan diameter kolam selebar 100 meter. Kolam air mancur juga dihiasi dengan simbol ideologi dari Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dengan 5 silanya. Pada saat yang sama kolam air mancur ini juga menyimbolkan tanda memberi salam kepada semua warga dan tamu yang berkunjung di ibukota Jakarta sebagai ibukota Indonesia dan kota Metropolitan. Kolam air mancur ini akan menyapa mereka yang datang dengan formasi menyapa Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam dan Selamat Berhari Minggu. Monumen Selamat Datang terletak tepat di tengah piringan raksasa dengan patung berbahan tembaga kemerahan.

Pada malam hari, Bundaran HI ini akan terlihat cantik dengan hiasan lampu yang berpendar dari tengah kolam dan permainan air mancur. Pada waktu-waktu tertentu, seperti ulang tahun kota Jakarta dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, Bundaran HI juga dihiasi oleh pot berisi bunga-bunga berwarna warni.