Bubur Manado, Kuliner

Bubur Manado adalah bubur nasi bercampur sayuran khas Manado, Sulawesi Utara. Meski menyertakan nama Manado tetapi rumah makan yang menyajikan menu bubur ini tersebar di seluruh Sulawesi bahkan hingga luar pulau termasuk Jakarta. Bukan hanya dapur rumah makan atau restoran Manado tetapi juga dapur rumah tangga biasa yang bahkan bukan asal Sulawesi. Di daerah asalnya Bubur Manado dikenal dengan nama “Tinutuan”, diduga berasal dari kata Minahasa tu’tu yang artinya nasi.

Bubur Manado atau Tinutuan mempunyai sejarah yang panjang sejak masa penjajahan Belanda. Kebijakan monopoli dan tanam paksa mengakibatkan kondisi perekonomian masyarakat jatuh, kecuali bagi mereka yang bekerjasama dengan penjajah. Banyaknya peperangan mengakibatkan orang tidak berani  keluar rumah untuk membeli bahan makanan, atau mengambilnya ke ladang. Warga akhirnya memanfaatkan segala yang ada di sekitarnya, para ibu memetik sayur-mayur serta umbi-umbian (ubi talas, singkong) dan labu kuning yang ada di halaman atau pekarangan rumah. Bahan-bahan yang didapat dari sekitar rumah kemudian dicampur secara asal dalam satu wadah, dicampur sedikit beras lalu dimasak menjadi bubur. Ternyata rasanya enak dan disukai banyak orang. Sejak itu hidangan tinutuan tersebar ke masyarakat luas. Tinutuan disajikan bersama-sama dengan dabu-dabu (sambal), ikan asin, ikan roa, ikan cakalang, perkedel ataupun sup kacang merah, tergantung selera masing-masing. Biasanya, usai sebuah pesta atau hari-hari raya, misalnya Natal dan Tahun Baru, masyarakat akan membuat tinutuan untuk dimakan bersama. Semacam ada kepercayaan, bahwa setelah mengkonsumsi daging-daging berlemak di hari raya, maka sayur baik untuk tubuh.

Ada beberapa nama lain untuk bubur Manado dengan alasannya masing-masing, yaitu (1) “Bubur Sehat”. Tinutuan mengandung vitamin, mineral, dan serat yang sangat menyehatkan. Bahan yang digunakan terdiri dari aneka sayuran hijau seperti  bayam, daun gedi, kangkung, daun kunyit, dan daun sereh dengan kandungan vitamin A dan C. Sumber karbohidratnya berasal dari labu kuning, singkong, ubi jalar, dan beras. Tinutuan kerap dikonsumsi saat seseorang sedang dalam kondisi tidak fit, menjalani program diet, atau dijadikan makanan bayi dengan syarat dihaluskan seluruhnya; (2) “Bubur Persaudaraan”. Tinutuan dijuluki bubur persaudaraan karena hampir selalu dihidangkan sebagai jamuan di banyak  acara yang diadakan oleh berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi Utara. Mereka meyakini hidangan Tinutuan atau Bubur Manado dapat merekatkan persaudaraan dan pergaulan; (3) “Bubur Campur”. Tinutuan sering disebut sebagai bubur campur oleh warga asli Sulawesi Utara, karena semua bahan dicampur menjadi satu saat memasaknya, dan ketika disajikan dalam mangkuk atau piring juga tercampur tanpa ada satu bahan yang dipisahkan.

Dalam perkembangannya muncul kreasi Tinutuan, seperti Tinutuan Cakalang dengan campuran ikan cakalang yang sudah dihancurkan, atau “Miedal” yaitu Tinutuan dengan campuran mie telor yang terkenal di daerah Minahasa. Miedal berasal dari makanan sejenis tinutuan bernama peda’al, yaitu sup sayuran yang dicampur dengan beras tumbuk atau jagung. Peda’al kemudian ditambahkan mie sehingga disebut dengan “miedal”. Di warung-warung makan di Minahasa miedal tersedia bersama tinutuan. Kalau ingin makan peda’al tanpa mie, pemesan akan menyebut tinutuan. Maka, yang kemudian tersaji di meja adalah peda’al karena tanpa mie. Dan itu adalah juga tinutuan.

Bahan:

  1. 200 gram beras
  2. 2 liter air
  3. 2 batang serai dimemarkan
  4. 4 buah bawang merah diiris tipis
  5. 2 buah jagung muda dipipil
  6. 200 gram daun gedi muda
  7. 250 gram labu kuning dipotong-potong persegi
  8. 250 gram ubi jalar putih, dikupas, dipotong-potong persegi
  9. 1 ikat daun kemangi
  10. 200 gram daun melinjo
  11. 200 gram daun labu kuning muda

Pelengkap: ikan asin goreng dan sambal roa atau sambal tomat

Cara Membuat:

  1. Beras dicuci bersih, campur dengan air, serai, bawang merah, dan garam. Didihkan dan masak hingga setengah matang
  2. Masukkan jagung, labu, ubi, dan daun kemangi. Teruskan memasak hingga matang.
  3. Lima menit sebelum diangkat masukkan daun melinjo, daun labu, dan daun gedi. Masak sebentar hingga sayuran layu.
  4. Sajikan panas-panas dengan pelengkap disertai kopi susu hangat atau teh manis hangat.