Bubur Kampiun, Kuliner

Bubur Kampiun atau Bubua Kampiun adalah sajian khas Ramadhan yang berasal dari wilayah Minangkabau Daratan (darek), tepatnya Bukittinggi, Sumatera Barat. Bubur ini merupakan campuran aneka bubur yang ditempatkan dalam satu wadah dan menghasilkan rasa manis serta lembut di lidah. Susunan bubur kampiun terdiri dari ketan putih kukus, bubur ketan hitam, bubur sumsum, bubur kacang hijau, kolak pisang/ubi, dan bubur conde atau bubur candil. Masyarakat dahulu menikmati bubur kampiun sebagai alternatif menu sarapan, dan hingga kini orang hanya mengkonsumsinya di pagi hari. Tingkat pembuatan bubur kampiun cukup sulit, dan tidak semua pembuat bubur bisa menghasilkan cita rasa nikmat dari bubur tersebut. Pengaturan waktu dalam proses pembuatan bubur kampiun harus diperhatikan dengan baik karena semuanya dimasak secara bersamaan, tetapi tentu saja masing-masing diolah di panci yang berbeda, dan di atas tungku yang berbeda-beda pula. Salah satu dari sedikit pedagang bubur kampiun yang tersisa di Pasar Raya Padang mengungkapkan bahwa proses pemasakan air, pemotongan bahan-bahan, pemerasan santan hingga pengadukan ketan hitam, dan bubur sumsum semuanya berlangsung secara simultan (serentak). Proses inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi pembuat bubur. Awalnya bubur kampiun juga dijajakan di luar bulan Ramadhan tetapi tingkat kesulitan pembuatannya yang cukup tinggi, harga bahan baku yang perlahan merangkak naik, dan sedikitnya peminat bubur manis khas Sumatera Barat ini, mengakibatkan jumlah kedai atau warung khusus bubur kampiun juga berkurang. Kalaupun masih ada yang membuatnya tidak lebih sebagai bentuk pelestarian makanan tradisional agar tetap eksis. Uniknya, saat Ramadhan tiba menu bubur kampiun selalu muncul dan menjadi primadona, baik di tempat asal lahirnya maupun di luar daerah, termasuk pasar-pasar makanan Ramadhan di Jakarta.

Kisah tentang bubur kampin atau bubua kampiun dimulai setelah perang revolusi sekitar tahun 1958-1961. Perang berkepanjangan dan peristiwa politik dalam negeri menjadikan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan provinsi sekaligus pusat pemerintahan darurat pasca penjanjian Renville di bawah kendali Bung Hatta. Ketika Belanda mengetahui hal ini ibukota Bukittinggi pun diserbu sehingga pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di bawah kendali Sjafruddin Prawiranegara bergeser ke pedalaman Sumatera Barat di sekitar wilayah Hambalan. Kondisi ini tentunya menyisakan trauma bagi masyarakat Bukittinggi. Salah satu upaya yang dilakukan para tokoh adat dan masyarakat di desa Jambuair-Banuhampu, Bukittinggi, adalah dengan menyelenggarakan sebuah perlombaan khusus, di antaranya kontes layang-layang dan lomba kreasi membuat bubur yang menjadi acara utama. Kegiatan ini mendapat antusias tinggi dari segala lapisan masyarakat, mulai anak-anak hingga para sepuh semuanya ikut serta. Dalam perlombaan membuat bubur, berbagai resep disajikan oleh para peserta termasuk Amai Zona, seorang nenek penjual bubur yang datang terlambat. Peserta lomba ada yang membuat bubur dengan campuran cokelat, dan juga keju yang saat itu terbilang langka. Nenek Amai Zona yang hanya memiliki sedikit waktu karena datang terlambat dan tak memiliki persiapan cukup, akhirnya membuat kreasi sederhana dengan mencampur beberapa bubur yang dijualnya dalam sebuah mangkuk. Jadilah bubur campur ala Amai Zona untuk dicicipi oleh para juri yang ternyata menyebut namanya sebagai pemenang. Saat ditanya nama bubur kreasinya, Amai Zona spontan menyebut “Bubua Kampiun” yang maksudnya adalah “champion (juara)”. Nama bubur kampiun yang dimaknai sebagai buburnya sang juara akhirnya melekat hingga kini.

Bubur yang menjadi kelengkapan bubur kampiun ternyata memiliki filosofi dan makna masing-masing. Banyak di antara kita yang tidak mengetahuinya.

  1. Kolak pisang. Kata kolak merujuk pada “Al-Khaaliqu”, salah satu Asmaulhusna (99 nama Allah), artinya “Yang Menciptakan”, dan sering digunakan sebagai pengganti kata “Allah”. Filosofi dalam hidangan ini adalah sebuah pengharapan agar setelah menyantap takjil kolak bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pisang kepok dalam campuran kolak mengingatkan orang agar  kapok atau jera berbuat dosa dan segera bertaubat kepada Allah. Ubi atau telo pendem mengingatkan kita untuk mengubur atau memendam semua  kesalahan yang pernah diperbuat  agar bisa melanjutkan hidup dengan jalan yang diridho Allah.
  2. Bubur sumsum yang terbuat dari tepung beras dan kuah gula Jawa melambangkan kesederhanaan. Murdijati Gardjito, seorang Guru Besar dan peneliti pangan dari Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa bubur sumsum terlahir ketika kalangan bawah berjuang untuk memenuhi pangan, khususnya di masa paceklik/krisis pangan.
  3. Bubur ketan hitam, kudapan asli yang disukai sejak zaman Majapahit dan dikonsumsi semua kalangan, baik raja maupun rakyat jelata. Butiran ketan hitam yang saling melekat melambangkan  kedekatan saat berkumpul, menjadi semakin erat dan semakin baik. Rasa manis pada ketan sebagai sebuah pengharapan agar saat melakukan pertemuan dapat membuahkan hasil yang indah-indah.

Kolak pisang

  1. 500 ml santan
  2. 2 buah pisang tanduk, potong-potong
  3. 1 sendok teh garam
  4. 150 gram gula merah
  5. 1 lembar daun pandan

Bubur conde/candil

  1. 150 gram tepung ketan
  2. 300 ml air
  3. ¼ sendok teh air kapur sirih
  4. ½ sendok teh garam
  5. 100 ml air hangat
  6. 1 lembar daun pandan
  7. 1 sendok makan tepung beras, larutkan dengan sedikit air
  8. 100 gram gula merah

Bubur sumsum

  1. 300 ml santan
  2. 1 lembar daun pandan
  3. 100 gram tepung beras, cairkan dengan sedikit santan
  4. ½ sendok teh garam

Bubur ketan hitam

  1. 250 gram ketan hitam kukus, siap pakai
  2. ½ butir kelapa setengah tua, parut panjang

Bubur kacang hijau

  1. 150 gram kacang hijau, rendam ± 3 jam.
  2. 2 lembar daun pandan, sobek lalu ikat
  3. 250 ml santan kental
  4. 1 ruas jahe, memarkan
  5. ¼ sendok teh garam
  6. 200 gram gula merah
  7. 1,25 liter air

Cara membuat:

Kolak pisang

  1. Masak santan hingga mendidih.
  2. Masukkan gula merah, garam, dan daun pandan.
  3. Setelah semua bahan tersebut tercampur masukkan potongan pisang lalu aduk-aduk hingga pisang masak, angkat dan sisihkan.

Bubur conde/candil

  1. Campurlah tepung ketan dengan garam dan air kapur sirih.
  2. Tuangkan air hangat lalu aduk hingga menjadi adonan yang bisa dibentuk.
  3. Setelah adonan tercampur dengan baik ambil sedikit demi sedikit lalu bentuk bola-bola kecil. Sisihkan.
  4. Didihkan air, gula merah, dan daun pandan.
  5. Masukkan bola-bola kecil tadi lalu masak hingga mengapung.
  6. Tambahkan larutan tepung beras, masak hingga kental. Angkat, sisihkan.

Bubur sumsum

  1. Masak santan hingga mendidih dengan campuran garam dan daun pandan.
  2. Masukkan larutan tepung beras, aduk terus hingga bubur menjadi kental dan matang. Angkat, sisihkan.

Bubur Kacang Hijau

  1. Rebus kacang hijau dengan 1 liter air hingga kacang merekah dan matang.
  2. Rebus gula merah dan 250 ml air hingga gula larut. Angkat dan saring.
  3. Tuang rebusan gula ke dalam panci rebusan kacang hijau.
  4. Masukkan jahe, daun pandan, dan garam. Aduk dan masak hingga mendidih.
  5. Tuang santan kental, didihkan sekali lagi sambil diaduk supaya santan tidak pecah. Angkat, sisihkan.

Cara penyajian :

  1. Siapkan wadah makan (mangkuk atau gelas).
  2. Tata ke dalam wadah: bubur sumsum, kolak pisang, bubur candil, bubur kacang hijau, ketan kukus, dan kelapa parut. Hidangkan selagi hangat.