Blues, Seni Musik

Blues adalah genre musik yang lahir dari etnis Afrika-Amerika di semenanjung Delta Mississipi pada akhir abad ke-19, sekitar tahun 1890 atau 1895. Di masa itu para budak atau petani kapas keturunan Afrika-Amerika di sela-sela kerja kerasnya di ladang sering meluapkan emosi dengan menyanyi. Lagunya dibawakan secara asal, nadanya bernuansa kesedihan dengan suara yang mengayun, dan liriknya menggambarkan penderitaan sebagai budak yang tertindas. Saat beristirahat mereka juga menghibur diri dengan menyanyi. Istilah blues sendiri mengacu pada judul sebuah pertunjukan drama “Blue Devils”, yang digunakan oleh George Colman dalam pertunjukannya di Eropa tahun 1798. Blue Devils yang bermakna melankoli dan penuh kesedihan adalah protes dalam bentuk pertunjukan drama, yang ditujukan kepada para penguasa Eropa masa itu. Kata blues kemudian resmi digunakan pada tahun 1910.

Delta Mississipi, tempat dimana musik blues tumbuh, juga menjadi tempat lahirnya musik jazz, sehingga antara musik blues dan jazz sulit dipisahkan bahkan saling mempengaruhi. Musik blues mulai berkembang di Amerika sekitar tahun 1900-an, yang semula hanya pertunjukan informal menjadi lebih berkelas dengan pementasan di teater, klub malam, serta bar. Perusahaan rekaman juga mulai melirik musik blues, seperti American Records Corporation, Paramount Records, dan Oke Records. Sejak saat itu musik blues menyebar ke wilayah perkotaan, di antaranya Chicago, Mississipi, Texas, Tennese, Vickburg, Memphis, Dallas, New Orleans, dan Missouri.

Musik blues dibagi menjadi beberapa genre yang cukup populer di tahun 90-an, yaitu: (1) Delta Blues, gaya permainan dari daerah Mississipi yang berkembang ke Tennesse, Vickburg, dan Yazoo River. Delta blues adalah gaya musik blues paling awal dengan dominasi gitar dan harmonika. Salah satu pencetusnya adalah Charlie Patton, sedangkan musisi bergaya delta blues antara lain Robert Lockwood Jr. dan Robert Johnson; (2) Piedmont Blues atau East Coast Blues, yang populer tahun 1920-an. Gaya permainan instrumennya disebut finger style, dengan cara finger picking menggunakan petikan empat jari. John Jackson adalah musisi dengan gaya ini; (3) Jump Blues, populer di tahun 1940-an. Gaya permainan musiknya bertempo cepat (up tempo), dan menggunakan alat musik tiup sebagai tambahan; (4) Chicago Blues, gaya blues di Chicago yang menggunakan alat musik gitar, harmonika, drum, piano, bass, dan kadang saxophone. Chicago blues lahir dari unsur Delta Blues. Musisi gaya Chicago blues antara lain Willie Dixons, Muddy Water, BB King, dan KokoTaylor; dan (5) Blues Rock, genre blues yang merupakan kombinasi antara blues dengan rock & roll. Gaya ini mulai terbentuk sekitar tahun 1960-an. Rolling Stones adalah salah satu kelompok musik yang mempopulerkan blues rock.

Menurut Sylviane Diouf (Schomburg Center for Reasearch in Black Culture, Newyork) musik blues memiliki keterkaitan dengan tradisi masyarakat muslim di Afrika Barat. Ia mencoba membuktikannya dengan memutar dua rekaman berbeda, pertama rekaman yang berisi lantunan adzan, kemudian rekaman kedua berisi lagu blues lawas Levee Camp Holler yang pertama kali muncul di Delta Mississippi sekitar 100 tahun lalu. Menurutnya itu bukanlah lagu blues biasa. Lagu itu diciptakan oleh komunitas kulit hitam muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca perang sipil. Lirik lagu tersebut berisi adzan (panggilan untuk shalat) yang menyebutkan keagungan Allah. Menurut Diouf, gaya vokal yang sengau dalam lagu Levee Camp Holler sangat mirip dengan gaya seseorang yang mengumandangkan adzan. Pernyataannya didukung oleh pendapat para sejarawan yang menyatakan bahwa sekitar 30% budak dari Afrika Barat di Amerika adalah muslim.

Prof. Gehard Kubik, yang menulis sebuah buku tentang relasi musik blues dengan peradaban Islam di Afrika Barat Africa and The Blues (University Press of Mississippi, 1999), menjelaskan bahwa banyak gaya vokal penyanyi blues yang menggunakan melisma atau intonasi bergelombang. Gaya vokal seperti itu merupakan peninggalan masyarakat Afrika Barat yang telah melakukan kontak dengan dunia Islam sejak abad ke-7 dan ke-8. Melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata, sedangkan intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor. Hal itu sangat umum digunakan saat kaum muslim mengumandangkan adzan dan membaca Al-Quran.

Musik blues di Indonesia mengalami perkembangan pesat pada dekade tahun 1980-an. Di era sebelumnya musik di Indonesia lebih didominasi oleh lagu-lagu pop dengan tema cinta dan lagu-lagu rock. Seniman legendaris Betawi, Benyamin Sueb, ikut berjasa dalam perkembangan musik ini, meskipun ia lebih populer dengan lagu-lagu yang berirama gambang kromong serta pop jenaka. Namun dalam beberapa lagunya terdapat unsur blues, seperti lagu yang berjudul Kompor Mleduk. Benyamin juga sempat membentuk band dengan nama “Benyamin Sueb & Beib Blues”. Selain Benyamin Sueb, Harry Rusly dan Slank juga turut serta dalam perkembangan musik blues di Indonesia. Saat ini musisi Indonesia yang terkenal dengan aliran blues antara lain Sandhy Sandoro, Gugun Blues Shelter, Ginda Bestari, dan Andi Adioetomo. Maret 2019 yang lalu. Gugun Blues Shelter ikut memeriahkan Festival Blues Rock yang diadakan di Stasiun Kerata Api Taman Mini Indonesia Indah.