Bir Pletok, Kuliner

Minuman khas Betawi yang meski bernama bir tetapi 100% halal, non alkohol, dan sama sekali tidak membuat mabuk bahkan menyehatkan karena terbuat dari rempah-rempah. Penamaan “bir” ini menurut Ibu Sunarti, seorang produsen bir pletok di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan, memiliki kisah tersendiri. Minuman ini sebelum disajikan dituang terlebih dahulu ke dalam bumbung (tabung bambu) untuk dikocok dengan es. Saat dikocok kemudian terdengar bunyi pletok-pletok, yang mungkin disebabkan benturan antar es batu dan dengan bumbung bambunya itu sendiri. Ketika dituang dari bumbung ke dalam gelas airnya berbusa seperti bir. Itulah sebabnya minuman ini diberi nama “bir pletok”.

Konon minuman bir pletok muncul dari kalangan Betawi gedongan yang banyak bergaul dengan orang-orang Belanda. Mereka sering melihat cara dan kebiasaan orang Belanda meminum bir lalu mencoba membuatnya dengan bahan rempah tanpa alkohol. Nilai religi yang kuat di kalangan Betawi melarang konsumsi alkohol meski kerap bergaul dengan orang-orang Belanda. Ibu Cucu Sulaicha, pakar kuliner Betawi, menjelaskan bahwa bir pletok aslinya tidak disajikan dalam keadaan hangat melainkan menggunakan es batu, persis seperti cara orang Eropa mengkonsumsi minuman wine atau anggur. Jika saat ini ada orang yang meminum bir pletok dalam keadaan hangat maka itu adalah soal selera. Perpaduan ramuan rempah yang disajikan dengan es batu itulah yang menjadikan bir pletok berbeda dengan minuman tradisional lainnya di Indonesia. Minuman rempah lain biasanya dikonsumsi saat panas atau hangat semisal wedang ronde, wedang uwuh, atau sarabba.

Pendapat yang menyatakan bahwa penyajian bir pletok dengan es merupakan hal baru mungkin lebih disebabkan minuman ini sempat hilang dari peredaran. Penelitian yang dilakukan Denys Lombart dalam bukunya Nusa Jawa menyebutkan bahwa sekitar tahun 1869 keluarga-keluarga kaya di Batavia “hanya minum air yang berasal dari es yang mencair, yang didatangkan dari Boston”. Dan seorang musafir Perancis bernama Delmas, yang sebelum tahun 1895 mampir ke Batavia disebutkannya telah mencicipi “segelas besar sidre-syampanye, minuman lezat yang dibuat dengan buah-buahan negeri itu, es dan soda”. Sedangkan F.Schulze dalam bukunya Guide of West Java yang terbit tahun 1894 menyebutkan adanya dua pabrik es di Batavia, satu di Molenvliet (daerah Glodok sekarang) di Gang Chassé, dan yang lain di wilayah Petojo.

Bir pletok yang airnya berwarna kemerahan karena campuran kayu secang, dahulu dikenal sebagai “minuman rakyat”, dijajakan keliling kampung dan menjadi kegemaran banyak orang. Salah satunya adalah H. Djayadi, tokoh Betawi Kota Bambu-Tanah Abang, yang menjadi produsen bir pletok terbaik dalam Festival Jajanan Betawi tahun 1992. Beliau menyatakan bahwa bir pletok adalah jajanan favoritnya sepulang sekolah sekitar akhir tahun 1950-an. Penyebaran bir pletok sempat berjalan lambat dan terbatas serta terkesan eksklusif, bahkan bagi warga Jakarta itu sendiri. Hal ini bisa jadi karena minuman bir pletok sempat menghilang saat terjadi banyak pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Belanda di Batavia hingga etnis Betawi sempat tercerai berai dan mengungsi ke luar dari “kawasannya” sendiri. Setelah kemerdekaan barulah bir pletok muncul kembali dalam lingkungan terbatas. Tahun 1976 setelah Lembaga Kebudayaan Betawi dibentuk dan diresmikan oleh gubernur DKI masa itu, Ali Sadikin, minuman bir pletok diperkenalkan kembali dan digiatkan pembuatannya secara luas di lingkungan komunitas Betawi hingga kini.

Dalam perkembangannya minuman bir pletok juga mengalami pergeseran dan modifikasi. Ada yang membuatnya dengan tetap menggunakan resep ‘pakem’, tetapi ada juga yang mengganti serta menambahkan bahan lain dalam campurannya. Kini di kawasan budaya Betawi, Setu Babakan, Jagakarsa, Jakarta Selatan, bir pletok bisa dibeli dalam bentuk siap minum dengan kemasan botol kaca dan kemasan instan bubuk siap seduh. Di salah satu ritel terkemuka minuman bir pletok juga ditemukan dalam kemasan botol kecil mirip kratingdeng. Tahun 2012 bir pletok ditetapkan sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Bahan:

  1. 5 ltr air
  2. 5 lembar daun jeruk purut
  3. 2 lembar daun pandan, simpulkan
  4. 5 lembar bunga pala
  5. 50 gram kayu secang
  6. 750 gram gula pasir

 

Bumbu, memarkan :

  1. 250 gram jahe
  2. 3 cm kayu manis
  3. 1 sendok teh cengkeh
  4. 1 sendok teh merica butiran
  5. 5 buah kapulaga
  6. 250 gram biji pala
  7. 2 batang serai

 

Cara membuat :

  1. Campur semua bahan kecuali kayu secang dan gula pasir. Didihkan.
  2. Masukkan kayu secang dan gula pasir, aduk rata.
  3. Masak hingga mendidih dan harum. Angkat.
  4. Sajikan dengan es batu atau hangat.