Bir Jawa, Kuliner

Minuman tradisional yang berakar dari tradisi keraton Yogyakarta dan kini bisa dinikmati semua kalangan, baik di kota asalnya maupun Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Meski berjuluk “bir” tetapi minuman ini sama sekali tidak mengandung alkohol, sama persis dengan minuman tradisional Betawi “bir pletok” yang juga non alkokol. Bir Jawa terbuat dari rempah-rempah asli Indonesia. Ada 10 macam rempah yaitu kayu secang (caesalpinia sappan), serai (cymbopogon citratus), cengkeh (syzgium aromaticum), kayumanis (cinnamomum burmannii), jahe (zingiber officinale roscoe), pala (myristica fragrans), merica (piper nigrum), mesoyi (massoia aromatica), cabe jawa (piper retrofractum), dan kapulaga (amomum cardaomum). Air rebusan rempah-rempah tersebut awalnya berwarna merah karena efek ekstrak serutan kayu secang, namun setelah diberi air jeruk nipis yang bersifat asam, perlahan warnanya berubah menjadi cokelat kekuningan sebagaimana lazimnya bir Eropa.

Bir Jawa lahir dari keinginan Sultan Hamengkubuwono VIII (1921-1939), untuk bisa bersama-sama dengan tamunya menikmati minuman kala mereka berkunjung ke keraton Yogyakarta, baik dalam rangka kunjungan kenegaraan maupun dagang. Tamu-tamu Belanda itu sebenarnya terkadang membawa bir untuk diminum bersama tetapi Sultan selalu menolaknya, karena sebagai seorang muslim dan tokoh penguat agama Islam bagi rakyatnya, Sri Sultan tidak bisa meluluskan permintaan tersebut. Sultan juga menganggap bir merupakan minuman berbahaya yang memabukkan, namun di sisi lain sebenarnya Sultan berkeinginan menyajikan minuman bir versi keraton yang bisa dinikmati seluruh keluarganya dan “halal”. Akhirnya dibuatlah racikan rempah hingga mendapatkan komposisi campuran seperti yang sekarang ini, dengan tambahan kucuran air jeruk nipis untuk mendapatkan efek warna minuman serupa bir Eropa. Ternyata minuman yang terasa manis, asam, dan pedas ini bisa diterima oleh orang-orang Belanda karena memang mirip dengan bir Eropa, baik warna maupun sensasi hangat pada tubuh yang ditimbulkannya. Penamaan “bir” pada minuman tersebut adalah salah satu bentuk penghormatan Sultan terhadap tamu-tamunya yang berasal dari Eropa, sedangkan orang-orang Belanda meski merasa minuman yang disajikan memiliki cita rasa yang berbeda dengan bir asli, tetapi mereka memakluminya karena menghormati Sultan sebagai muslim yang tak mengkonsumsi alkohol.

Sejak itu minuman yang selalu disajikan oleh Sultan setiap ada orang Belanda yang datang adalah Bir Jawa khas Keraton Yogyakarta. Keraton sebenarnya juga menyimpan minuman beralkohol yang hanya keluar dari “Sarang Baya” saat ada kunjungan tamu-tamu Belanda. “Sarang Baya” bermakna ruangan berbahaya, tempat dimana tersimpan minuman yang berbahaya jika dikonsumsi karena bisa memabukkan. “Baya” berasal dari kata “bebaya” yang artinya berbahaya. Bir Jawa kemudian menjadi sangat populer di lingkungan keraton. Sultan Hamengkubuwono VIII biasa meminumnya di sore hari sambil tiduran di kursi malas di Ngindrikila bersama para abdi dalem keraton.

Campuran rempah pada bir Jawa mengandung mineral kalium (K), natrium (Na), calsium (Ca), magnesium (Mg), mangan (Mn), zat besi (Fe), tembaga (Cu), selenium (Se), vitamin B kompleks, vitamin C, vitamin E, bioflanonoid, dan minyak atsiri. Komponen tersebut sangat baik bagi tubuh, bukan hanya sekedar menghangatkan, tetapi juga menyamankan lambung, membuang gas-gas pada saluran pencernaan yang dapat meningkatkan kerja sistem pencernaan, memperlancar buang air besar, melancarkan peredaran darah, mengurangi bau nafas kurang sedap, mengurangi stress dan peradangan sel, serta menghilangkan rasa lelah dan pegal-pegal. Bir Jawa terasa menyegarkan saat disajikan dingin, dan dalam keadaan hangat tidak menyengat seperti jamu karena ada rasa asam jeruk nipis yang menyegarkan di antara bau rempah-rempah. Saat ini, untuk menarik minat pembeli, bir Jawa biasanya dipadukan dengan es batu kemudian dikocok menggunakan alat pengocok “shaker”. Teknik ini dimaksudkan untuk menimbulkan efek buih atau busa yang mirip dengan bir sebenarnya. Penyesuaian dengan selera kekinian merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kuliner tradisional, yang dapat menjadi daya tarik bagi para pemburu kuliner.

Cara membuat:

  1. Jahe dicuci dan dikupas/dikerok kulitnya, kemudian dibakar dan digeprek. Bisa juga jahe bakar yang telah dibersihkan remahannya itu diiris tipis-tipis.
  2. Sereh dicuci dan diambil bagian batang bawahnya lalu digeprek/dimemarkan, agar minyak atsiri mudah terekstrak. Daun jeruk purut diiris tipis-tipis.
  3. Jahe bakar geprek/iris, sereh geprek, kayumanis, kapulaga, cengkeh, secang, mesoyi, dan kemukus segera dimasukkan ke dalam air mendidih. Biarkan beberapa saat sekitar 15 menit agar rempah-rempah terekstrak sempurna dan minyak atsiri terserap air. Selanjutnya disaring.
  4. Campuran rempah dididihkan kembali sambil ditambahkan gula batu atau gula pasir hingga larut sempurna.
  5. Jika sudah dingin, bir Jawa siap disajikan dengan tambahan es batu.
  6. Agar menyerupai bir, tambahkan perasan jeruk nipis ketika akan dikocok menggunakan “shaker” atau “waring blendor” sehingga terbentuk busa.
  7. Jeruk nipis membuat minuman terasa asam, dan berubah warna dari merah karena ekstrak kulit kayu secang menjadi kuning emas.