Bioskop Megaria 21, Benda Cagar Budaya

Sepanjang sejarahnya, Bioskop Metropole hadir dengan sejumlah nama. Pada 1960, mengikuti perintah Presiden Sukarno, Metropole mengganti namanya yang berbau asing menjadi Megaria. Kemudian sepanjang Orde Baru sempat berganti nama menjadi Megaria Theatre. Pada 1989, ketika gedung bioskop ini disewakan pada jaringan 21 Cineplex, namanya berubah menjadi Metropole 21, dan sempat berganti kembali menjadi Megaria 21, sebelum kemudian pada 2008 (usai berita penjualan bioskop yang menggemparkan) kembali dipugar oleh 21 Cineplex dan berganti nama menjadi Metropole XXI hingga kini. Namun, sampai sekarang, orang-orang tetap akrab memanggilnya sebagai Bioskop Megaria.

Bioskop Metropole di Kota Jakarta adalah sebuah gedung bioskop bersejarah yang dibangun pada tahun 1932 dengan nama Bioscoop Metropool, sesuai dengan ejaan bahasa Belanda pada waktu itu. Peninggalan arsitektur ini ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kelas A berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta no. 475 Tahun 1993. Kini,   bioskop yang dikelola oleh 21 Cineplex group, juga memilki  pula gerai kopi Starbucks, toko roti, dan restoran di lantai dua. Sementara gedung kedua kini ditempati ruang pamer Grohe, produk sanitasi air asal Jerman.

Bioskop yang terletak di sudut Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat dan berkapasitas 1.000 penonton ini adalah salah satu bioskop terbesar dan tertua, dengan arsitektur bergaya Art Deco yang masih tersisa di Jakarta hingga sekarang. Pada 1951, gedung dan lahan seluas 11.623m² ini dimiliki oleh PT Bioskop Metropole. Bangunannya dirancang oleh Liauw Goan Sing yang meninggalkan Indonesia pada 1958 untuk pindah ke Belanda ketika terjadi naturalisasi. Bioskop ini mulai dibangun pada tahun 1932 dan diresmikan tahun 1949 oleh Wakil Presiden Muhammad Hatta. Nama bioskop ini diganti menjadi Bioskop Megaria akibat adanya kebijakan anti-Barat dari Presiden Soekarno pada tahun 1960.  

Liauw Goan Sing mendesain Metropole dengan gaya arsitektur Art Deco, yang berasal dari kata Art Decorative, sebagai bagian perkembangan arsitektur Art Nouveau. Tidak seperti Art Nouveau yang ditandai dengan banyaknya ornamen dekoratif seperti kaca mozaik, gambar, serta ukiran, unsur kerumitan pada Art Deco jauh berkurang dan menjadi lebih sederhana. Sampai saat ini Metropole merupakan satu-satunya bangunan besar bergaya arsitektur Art Deco yang masih bertahan di ibukota.

Dengan menggunakan blower dan exhaust, bioskop berkapasitas 1.446 penonton ini cukup nyaman pada masanya. Ia pun tak sendirian di atas lahan seluas 11.623m² itu. Seperti bioskop Capitol dan Menteng, area Metropole dikelilingi oleh toko-toko dan tempat hiburan. Di lantai atas bioskop terdapat ruang dansa. Di samping kanan bioskop ada toko-toko tekstil.

Pada tahun awalnya, Bioskop Metropole terikat kontrak sehingga hanya menayangkan film-film yang diluncurkan oleh MGM (Metro Goldwyn Mayer). Bioskop tersebut identik dengan film-film populer Amerika, yang menaikkan gengsi Metropole sebagai bioskop kelas satu. Dari War and Peace (King Vidor, 1956) sampai Gone with The Wind (Victor Fleming, 1939), dari aksi Marilyn Monroe sampai Robert Mitchum, pernah singgah di layar perak bioskop ini. Pada awal 1950-an, sebagai salah satu bioskop kelas satu, Bioskop Metropole juga tergabung dalam organisasi antarbioskop kelas satu. Salah satu yang paling terkenal adalah United Cinemas Combination, yang terdiri dari Bioskop Menteng, Astoria, Capitol, Cinema Grand, Happy, Sin Thu, dan Globe. Metropole sendiri bersama Bioskop Cathay, Garden Hall, Mayestic, Orion, Roxy, dan Podium tergabung dalam Independent Cinemas. Bioskop-bioskop kelas satu itu memutar film-film produksi Paramount, United Artists, J Arthur Rank, maupun Metro Goldwyn Mayer (MGM).

Namun pada saat pelaksanaan Festival Film Indonesia (FFI) pertama yang berlangsung pada 30 Maret hingga 5 April, beberapa bulan sebelum Pemilu pertama di Indonesia. Bioskop Metropole pun ikut serta menayangkan film-film Indonesia. Gedung Bioskop Metropole juga menjadi tempat dilaksanakannya rapat penting yang menjadi cikal bakal pendirian Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI).

Pada 1955, film Krisis tayang di Metropole, sebuah terobosan dalam sejarah film Indonesia. Awalnya, film karya Usmar Ismail itu hendak diputar di Capitol Theater.  Pada masa-masa itu, setidaknya dari 1950-an sampai 1970-an, memutar film Indonesia di bioskop kelas satu sangatlah sulit karena film Indonesia hanya diputar di bioskop-bioskop kelas C. Keyakinan Usmar Ismail atas Krisis sayangnya ditampik dengan hinaan oleh Weskin, manajer Capitol Theater, hingga kabarnya Usmar Ismail tak bisa menahan diri lalu memukulnya.

Untungnya ada Lie Khik Hwie, manajer utama Bioskop Metropole, yang menyambut baik film Krisis. Sekalipun perwakilan MGM di Indonesia keberatan, Lie Khik Hwie tak gentar. Ia mengatakan bahwa MGM yang tak memiliki saham sesenpun tak berhak mengaturnya. Ia bahkan mengancam akan merobek kontrak dengan MGM. Pihak MGM lalu membiarkan film Krisis menggeser jadwal film-film distribusinya, dan ternyata film itu sukses besar. Memecahkan rekor penonton film Terang Boelan (1937) karya Albert Balink, Krisis menjadi film Indonesia pertama yang bisa sukses di bioskop kelas satu. Krisis tayang di Metropole selama lima minggu, melebihi periode edar film-film Barat saat itu.

Sementara pada 1970, Metropole, yang kala itu sudah berganti nama menjadi Megaria, juga menjadi salah satu bioskop penunjang pelaksanaan Festival Film Asia ke-16 pada April sampai Mei 1970. Selain Metropole, bioskop lain yang ikut serta adalah Apollo, Star, City, Gelora, Menteng, Royal, Krekot, Satria, dan Orient.

Pada tahun 1984, konsep cineplex (membagi satu gedung menjadi beberapa kompleks teater) mulai dikenal di Indonesia, pertama kali diterapkan oleh Teater Kartika Chandra. Bioskop Megaria mengikuti strategi ini dan menambah satu teater tambahan di belakang gedung utama. Namun, strategi Bioskop Megaria tidak sesukses Kartika Chandra, dan akhirnya bioskop ini bangkrut. Kompleks teater ini kemudian dibeli oleh grup jaringan bioskop 21 Cineplex, yang dikelola oleh Subentra Grup pada tahun 1989dan diubah namanya menjadi Metropole 21.

21 Cineplex mengubah rancangan interior gedung itu dengan membagi ruang bioskop utama menjadi 3 bioskop berukuran kecil dan satu teater di gedung tambahan, dengan kapasitas tempat duduk sekitar kurang dari 170 kursi setiap ruangannya. Dengan demikian Metropole 21 menjadi bioskop yang memiliki 4 teater. Namanya pun sempat berubah menjadi Megaria 21. Gedung ini dinyatakan sebagai Bangunan Cagar Budaya Kelas A yang dilindungi dan tidak boleh dibongkar oleh Gubernur DKI Jakarta pada tahun 1993.

Selain bioskop dengan 4 teater milik 21 Cineplex group, sepanjang dasawarsa 1990-an sampai akhir dasawarsa 2000-an, gedung ini disewa oleh beberapa usaha kelas menengah, antara lain terdapat pula sasana biliar di lantai dua yang luas. Sementara di lantai dasar terdapat tempat cukur, dan beberapa restoran; antara lain kedai pempek megaria, rumah makan masakan Tionghoa, dan rumah makan ayam bakar khas Jawa. Sementara gedung sekunder pada lantai dasarnya disewa oleh gerai pasar swalayan Hero, dan perkantoran pada lantai di atasnya.

Karena lokasinya yang dekat dengan kantor pusat tiga partai dominan pada masa Orde Baru yakni, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Golongan Karya (Golkar),  Megaria menjadi salah satu lokasi populer untuk berkumpul bagi mahasiswa pada masa reformasi pada akhir tahun 1990-an.

Pada awal 2007, tersiar berita bahwa gedung bioskop ini akan dijual. Lahan dan bangunannya ditawarkan dengan harga Rp 15 juta per m² atau total sekitar Rp 151,099 miliar. Namun pada tahun 2008, rencana penjualan tersebut dibatalkan. Grup 21 Cineplex memperpanjang masa sewa dan melakukan renovasi baik pada bagian interior maupun eksterior bangunan dan mengubahnya menjadi bioskop untuk kalangan menengah ke atas, namanya pun diubah menjadi Metropole XXI.

Setelah renovasi yang digelar antara tahun 2008 dan 2013, penyewa gedung ini pun berubah menyesuaikan dengan peruntukannya yang sebagai gerai kelas atas, yakni dengan penerapan biaya sewa yang jauh lebih tinggi pula. Semula Grup Cineplex 21 sempat membuka kedai XXI Garden Cafe, yang kemudian digantikan oleh gerai Starbucks pada 2014.

Sementara tempat cukur, kedai pempek dan beberapa rumah makan di lantai dasar digantikan oleh bakery (toko roti) dan beberapa toko. Sasana biliar di lantai dua kini telah digantikan oleh Roemah Kuliner, sebuah restoran kelas atas dengan konsep food hall (mirip food court) yang menyajikan masakan Indonesia. Gedung kedua di sebelah timur bekas pasar swalayan, kini menjadi ruang pamer Grohe, produk sanitasi air mewah (keran, bak, wastafel, dan perlengkapan mandi dan sanitasi lainnya) asal Jerman.

 

Referensi

 

NO. Urut SK 475/1993      : 39

Nama Bangunan     : Bioskop Megaria 21

Nama Lama            : Bioskop Metropole

Lokasi                    : Jalan Cikini No.21, Kelurahan Menteng, Kecamatan Menteng, Jakarta 10330

Pemilik                   : -

Tahun dibangun      : 11 Agustus 1949 - 1951

Arsitek                   : -

Gaya Arsitektur       : Art Deco, De Stijl

 

Keterangan   :

Bioskop ini berkapasitas 1.000 orang tempat duduk dan mengalami masa jayanya antara 1949-1969. Pada tahun 1988 pengelolaan diserahkan kepada pemilik