Biola Wage Rudolf Supratman, Benda Cagar Budaya

Biola ini dibuat oleh Nicolaus Amatus, seorang seniman pengrajin biola di Cremona Italia pada tahun 1600-an. Biola dimiliki oleh Wage Rudolf Soepratman sebagai hadiah dari Willem van Eldik yang dibeli di Makassar pada tahun 1914. Biola yang telah berusia ratusan tahun tersebut digunakan sebagai pelantun untuk pertama kali Lagu Indonesia Raya tanggal 28 Oktober 1928. Biola Wage Rudolf Supratman koleksi Museum Sumpah Pemuda dengan Nomor Inventaris 0002/07 ini terbuat dari tiga jenis kayu berbeda. Bagian depan berbahan kayu Cyprus (Peronema canescens), sedangkan bagian samping (side plate), bagian belakang (back plate), leher (neck), dan kepala (scroll) dibuat dari kayu maple Italia (Acer pseudoplatanus). Bagian senar holder (tail piece), penggulung senar (driver), kriplang (finger board), dan end pin menggunakan kayu hitam atau kayu eboni Afrika Selatan (Diospyros melanida). Sedangkan bagian bridge atau jembatan terbuat dari kayu maple (Acer pseudoplatanus). Pada bagian senar kawat disisipkan kayu eboni (Diospyros celebica) yang keras untuk menahan beban senar kawat. Lis tepi biola tersebut dibuat dari rose wood dan eboni.

Pada bagian badan terdapat dua lubang berbentuk huruf “S” terbalik (f hole), satu di sisi kiri dan satu lagi di sisi kanan, berfungsi untuk membuang gema dari dalam. Pada bagian dalam terdapat tulisan “Nicolaus Amatus Fecit In Cremona 16”, petunjuk nama pembuat dan alamatnya. Pada bagian badan juga terdapat tick rest atau penahan dagu. Biola memiliki ukuran standar (4/4) dengan panjang badan 36 cm, lebar badan bagian bawah 20 cm, lebar badan bagian atas 11 cm, tebal 4,1 cm pada bagian tepi, dan tebal 6 cm pada bagian tengah. Leher biola berukuran panjang 37,2 cm, lebar leher pada sisi terlebar 4 cm dan tersempit 2,5 cm. Pada bagian leher ini terdapat setelan senar sepanjang 6 cm yang berujung bundar dengan diameter 2,5 cm. Penggesek biola memiliki ukuran panjang 71,2 cm dan panjang senar 62,5 cm.

Setelah Wage Rudolf Soepratman meninggal pada 17 Agustus 1938, biola ini dirawat oleh kakaknya, Ny. Roekijem Soepratijah. Pada tahun 1974, ketika Museum Sumpah Pemuda diresmikan, Ny. Roekijem sebagai wakil keluarga Wage Rudolf Soepratman menyumbangkan biola tersebut untuk disimpan di museum. Saat ini biola dalam keadaan baik dan terawat. Biola koleksi Museum Sumpah Pemuda tersebut pernah dikonservasi di Solo pada tahun 1995 oleh Bapak Sujiman.