Biola, Seni Musik

Biola seringkali mengingatkan kita akan sosok W.R. Supratman, sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Alat musik biola begitu lekat dengan kesehariannya, dan dengan biola pemuda Supratman memperdengarkan untuk pertama kalinya lagu Indonesia Raya dalam pelaksanaan Kongres Pemuda II. Nilai patriotik yang tinggi dalam biola sang pemuda, membuat pihak keluarga memutuskan untuk menyerahkannya kepada pemerintah dan kini menjadi koleksi Museum Sumpah Pemuda.

Biola adalah alat musik dawai dengan 4 buah senar yaitu senar G, D, A, E. Biola tidak mempunya pembatas seperti gitar. Biola dimainkan dengan cara digesek. Tangan kanan untuk menggerakkan bow dan tangan kiri untuk menekan senar sesuai nada yang kita inginkan. Pemain biola harus tahu dimana menempatkan jarinya, karena bila menempatkan jari yang salah di setiap senar maka itu akan menghasilkan nada yang berbeda. Di antara biola alto, cello, double bass, atau kontra bass yang semuanya masih serumpun, biola memiliki nada tertinggi. Alat musik dawai bass, secara teknis masuk ke dalam keluarga viol. Fiddle adalah nama lain untuk biola yang memainkan lagu-lagu tradisional. Pemain biola disebut “violinis” (violinist), sedangkan violin merujuk pada pemain viola, sedangkan pembuat alat musik berdawai termasuk yang mereparasi disebut “luthier”.

Biola terbagi menjadi badan biola, leher biola, jembatan biola, papan jari, senar, dan beberapa macam perangkat pembantu. Perangkat pembantu tersebut antara lain pasak penyetel untuk setiap senar, ekor biola untuk menahan senar, pin dan tali untuk menahan ekor biola, beberapa penyetel tambahan pada ekor biola bila diperlukan, dan sebuah penyangga dagu. Penyangga dagu dapat tergabung dengan ekor biola ataupun dipasang di sebelah kirinya.

Badan biola terdiri atas dua papan suara yang melengkung yang disatukan oleh kayu yang disebut iga biola yang dilem menggunakan lem binatang, lem kulit binatang, atau resin. Iga biola biasa terdiri dari bagian atas, keempat sudut, bagian bawah, dan garis tipis yang disebut lapisan dalam, yang membantu mempertahankan lekukan pada iga biola, dan memperluas permukaan untuk pengeleman. Dipandang baik dari depan maupun dari belakang, badan biola menyerupai bentuk jam pasir. Dua buah lekukan menyerupai huruf C pada kedua sisi samping biola memberikan ruang bagi busur biola untuk bergerak.

Sepanjang sejarah pembuatan biola di dunia, yang dianggap paling istimewa adalah biola Stradivarius dengan ciri label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (anno artinya tahun). Selain sempurna dalam bentuk dan warna, biola Stradivarius dikenal karena kejernihan suara yang dihasilkan, dan kepekaan terhadap sentuhan musisi yang memainkannya. Biola Stradivarius lahir dari tangan Antonio Stradivari, seorang luthier atau ahli membuat dan memperbaiki alat musik berdawai asal Cremona Italia. Banyak orang percaya, kemampuan membuat biola Stradivari datang karena sempat belajar dari Nicolas Amati, cucu dari pembuat biola hebat Andrea Amati (1511-1577). Biola Stradivarius dibuat pada 1666 hingga periode 1725. Periode 1700-1725 disebut sebagai periode emas kariernya. Selama hidupnya, Stradivari hanya membuat sekitar 1.000 biola dan instrumen dawai lainnya. Selain biola, Stradivari membuat alat musik selo, kecapi, mandolin, dan gitar. Karya biolanya yang paling terkenal adalah “1715 Lipinski” dan “1716 Mesias”. Kedua biola ini tak dijual sampai ia meninggal dunia.

Biola karya Stradivari yang dinilai paling baik adalah produksi antara 1698-1725 (memuncak sekitar 1715), dan kualitasnya dianggap melebihi biola produksi tahun 1725-1730. Salah satu biola Stradivarius  keluaran tahun 1725 yang sudah berusia 300 tahun ternyata ada di Indonesia, tepatnya di kota Batu, Malang, Jawa Timur. Pak Mudzoffar, memiliki biola Stradivarius tersebut selama hampir 60 tahun sejak mendirikan grup musik Melayu pertama,  OM Sinar Harapan, pada 1954 di kota Batu. Di Indonesia biola memang menjadi instrumen penting pada beberapa kesenian tradisional, di antaranya seni musik Melayu, orkes samrah betawi, dan keroncong tugu. Kedatangan bangsa asing memungkinkan masuknya alat musik dari barat yang memperkaya khasanah budaya tanah air. Biola juga melahirkan seniman handal Indonesia yang terkenal hingga mancanegara seperti Idris Sardi, Iskandar Widjaja, Clarissa Tamara, dan Hendri Lamiri. Alat musik ini kerap dikolaborasikan dengan musik tradisional dan kontemporer Indonesia termasuk dangdut. Inovasi alat musik biola dilakukan oleh Andar Bagus Sriwarno, PhD beserta tim dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Umumnya biola dibuat dari kayu, tetapi biola elektrik yang dibuatnya berbahan rotan dengan desain futuristik dan ergonomis. Rotan sengaja dipilih karena karakter materialnya kuat serta fleksibel, dan ketersediaannya di Indonesia melimpah.