BINTARO, KAMPUNG

Landscape Bintaro pada tahun 2005

Sumber: https://satujam.com/sejarah-kota-bintaro/

Di Jakarta terdapat salah satu tumbuhan yang dijadikan nama toponim daerah Jakarta Selatan, yang saat ini merupakan kawasan perumahan elit Bintaro Jaya yang berkembang pesat. Sebelum tahun 1975, Bintaro merupakan salah satu nama desa di wilayah Tangerang. Namun pada tahun 1990, wilayah ini dilakukan pemekaran dan sebagian wilayah Bintaro masuk ke dalam Kecamatan Pesanggerahan. Wilayah Bintaro Kecamatan Pesanggerahan berbatasan dengan wilayah Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Wilayah Bintaro terdiri dari beberapa sektor, namun hanya sektor 1 yang masuk ke dalam wilayah administrasi Jakarta Selatan. Sebagian besar wilayah di Bintaro merupakan milik pengembang PT Jaya Real Property Tbk (dahulu PT Bintaro Jaya), tidak heran jika di dalamnya terlihat berkembang maju dengan berbagai fasilitas penunjang.

Nama Bintaro berasal dari nama tumbuhan yang termasuk ke dalam tumbuhan semak yang bernama latin Cerbera Manghas L, tetapi dapat tumbuh sebagai pohon relatif kecil setinggi enam meter. Daunnya mengkilat berbentuk lanset dan panjang 13-25 sentimeter. Bunganya putih, harum, dan bentuknya menyerupai terompet. Umumnya bintaro tumbuh di hutan-hutan rawa dan bakau dengan tanah tidak terlalu asam atau tanah pasir di pantai. Tanaman ini termasuk ke dalam suku Apocynaceae yang tumbuh di Asia Tenggara, daerah tropis Australia, dan polinesia.  Di Indonesia, Bintaro ditemukan di Jawa, Sumatra, dan maluku. Kayunya yang berwarna putih atau abu-abu bagus dibuat arang yang dapat digunakan sebagai bahan peledak. Bijinya mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan untuk lampu, untuk membius ikan, dan sebagai obat gosok.

Nama Bintaro juga mengingatkan orang-orang pada tragedi kecelakaan kereta api yang terjadi pada 19 Oktober 1987. Kejadian tersebut terjadi pada pagi hari, pada saat orang-orang berangkat ke kantor. Dua buah kereta api jurusan Rangkasbitung-Jakarta (KA255) dengan kereta api cepat jurusan Tanah Abang-Merak (KA 220) bertabrakan dekat Stasiun Sudimara. Peristiwa tersebut memakan korban tewas 135 orang dan 300 orang luka-luka.