Binde Biluhuta, Kuliner

Binde Biluhuta adalah makanan khas Gorontalo yang terbuat dari jagung manis dan campuran bumbu rempah. Daerah Gorontalo memang terkenal sebagai sentra produksi jagung yang mampu memenuhi kebutuhan nasional. Tidak ada yang tahu pasti sejak kapan makanan Binde Biluhuta ada di wilayah Gorontalo, tetapi Mansoer Pateda, seorang Profesor Linguistik dari Universitas Negeri Gorontalo, mengatakan bahwa “binde biluhuta” sudah ada sejak masa pemerintahan raja-raja Gorontalo sekitar abad XV Masehi. Binde Biluhuta dikonsumsi oleh semua kalangan, baik lingkungan kerajaan maupun masyarakat biasa. Pipilan jagung dalam hidangan binde biluhuta dimaknai sebagai keadan yang tercerai berai. Di masa itu seringkali terjadi peperangan memperebutkan daerah taklukan berupa kerajaan-kerajaan kecil antara Kerajaan Gorontalo dan Limboto. Jagung yang tercerai berai dari bonggolnya karena dipipil itu kemudian dianalogikan sebagai raja-raja Gowa yang sedang bertengkar. Ketika pipilan jagung dicampur dengan bahan rempah dan diolah menjadi binde biluhuta, maka hidangan tersebut menjadi simbol pemersatu antara raja-raja yang berselisih paham. Peperangan untuk memperebutkan daerah taklukan yang sering terjadi di antara raja-raja Gorontalo melahirkan banyak simbol perdamaian, termasuk makanan. Binde Biluhuta dan Ilabulo adalah makanan khas Gorontalo yang disimbolkan sebagai persatuan serta perdamaian.

Binde Biluhuta dalam bahasa Gorontalo artinya adalah jagung yang disiram. Jagung dalam bahasa Gorontalo disebut “binde” atau “milu”, sedangkan biluhuta artinya disiram. Persamaan kata menyebabkan Binde Biluhuta kerap disebut Milu Siram. Binde Biluhuta sebenarnya adalah masakan sejenis sup yang rasanya segar, gurih, dan  cocok dinikmati saat cuaca dingin, terutama bagi yang sedang flu. Binde Biluhuta disajikan selagi hangat, dengan bumbu-bumbu pembeda rasa seperti cabe rawit (pedas), daun pepaya (pahit), dan jeruk nipis (asam), diletakkan dalam wadah yang terpisah, agar masing-masing bisa mengambil sesuai selera. Binde Biluhuta sebagai identitas kuliner khas Gorontalo selalu hadir dalam acara-acara penting seperti penyambutan tamu, dan  kegiatan kedinasan di lingkungan Pemda.

Binde Biluhuta mempunyai kandungan yang kaya manfaat bagi kesehatan tubuh. Kandungan karotenoid, bioflavonoid, dan vitamin C dalam jagung bekerja sebagai pengendali kadar kolesterol serta meningkatkan aliran darah dalam tubuh. Kandungan gizi yang cukup dalam Binde Biluhuta menjadikan hidangan ini cocok dikonsumsi untuk usia 7 tahun ke atas dan ibu hamil. Kandungan nutrisi dalam 100 gram jagung adalah energi (129 kal), protein (4,1 gr), lemak (1,3 gr), karbohidrat (30,3 gr), serat (2,9 gr), kalsium (5 gr), fosfor (108 mg), zat besi (1,1 mg), vitamin A (117 IU), vitamin B1 (0,18 mg), vitamin C (9 mg), dan air (63,5 gr). Binde Biluhuta pernah memenangkan International Cuisine Contest tahun 2002 di Los Banos, Philipina, yang diikuti oleh 19 negara. Dalam ajang Pasar Malam Indonesia tahun 2012 di Den Haag, Belanda, William Wongso menyuguhkan Binde Biluhuta sebagai sajian istimewa. Kepopuleran Binde Biluhuta sebagai masakan khas Gorontalo bahkan diabadikan dalam sebuah lagu yang berjudul sama dengan nama masakannya. Diciptakan oleh Rusdin Palada sekitar tahun tujuhpuluhan, salah satu penyanyi yang mempopulerkannya adalah Eddy Silitonga. Binde Biluhuta / Ula ulau loduwo / Wanu olamita ngoinda mopulito / Binde biluhuta / Malo sambe lolowo/  Malita dadata / Orasawa tohuwoto / Monga binde binde biluhuta / Timi idu bele dila tamotolawa / Monga binde binde biluhuta / Timi idu bele dila ta motolawa / Binde bilihuta / Diyaluo tou weo / Binde biluhuta / Bome to hulondalo.

Bahan:

  1. 2 bonggol jagung manis
  2. 100 gram kelapa parut
  3. 1500 ml air

Bumbu dan Rempah:

  1. 9 buah bawang merah, iris tipis
  2. 3 buah cabai merah keriting, iris tipis
  3. 3 buah cabai rawit merah, iris tipis
  4. 3 lembar daun jeruk purut
  5. 1½ - 2 sendok teh garam
  6. 3 sendok teh gula
  7. 250 gram udang ukuran sedang, kupas kulitnya
  8. 3 tangkai daun kemangi, petik daunnya
  9. 3 buah tomat hijau, belah menjadi empat (tomat sayur berwarna hijau muda berukuran kecil dengan rasa sedikit asam)
  10. 3 – 4 buah jeruk nipis

Cara membuat:

  1. Serut atau pipil jagung dari bonggolnya, sisihkan.
  2. Sangrai kelapa ± 5 menit hingga warnanya berubah (jangan sampai menjadi cokelat).
  3. Dalam panci, tuang air, kemudian masukkan jagung, bawang, cabai merah, cabai rawit, daun jeruk purut, garam, dan gula. Masak sampai mendidih, kecilkan api dan masak hingga jagung matang ± 15-20 menit.
  4. Setelah jagung matang, masukkan kelapa parut sangrai dan udang, aduk sebentar, tambahkan perasan jeruk nipis dan kemangi. Cicipi rasanya, yang dicari adalah campuran pedas, manis, asam.
  5. Tambahkan garam, gula, dan jeruk nipis sesuai selera.
  6. Kemangi dimasukkan di akhir memasak sebelum dihidangkan agar warnanya tetap hijau segar karena kalau ikut dimasak warnanya menjadi kehitaman.