Bibiana Lee Dan Indah Arsyad Dalam Karya "menguak Identitas", Seni Rupa

Persoalan identitas dan makna keragaman yang kini sering dipersoalkan, direspons Bibiana Lee dan Indah Arsyad dalam sebuah pameran seni rupa bertajuk “id: Sengkarut Identitas”. Menurut kurator pameran Asmudjo J. Irianto, identitas politik jadi sangat mainstream sejak tahun 90–an. “Identitas” laten di Indonesia karena ada beberapa lapis persoalan identitas. Persoalan identitas sangat kontekstual, apalagi belakangan ini ada pertengkaran di media sosial.

Menariknya, persoalan identitas yang dialami Bibiana Lee dan Indah Arsyad, justru kontradiktif. Bibiana membicarakan identitasnya yang begitu jelas sebagai wanita keturunan, sedangkan Indah justru mengangkat identitas Jawa-nya yang samar. Keduanya tampil dalam narasi estetik yang cukup berbeda namun saling mengisi dan melengkapi.

Bibiana Lee dengan identitasnya sebagai wanita keturunan yang lekat dengan WNI dan Cina mengalami dua masalah identitas sekaligus, yaitu keperempuanannya dan sebagai warga minoritas. Kegelisahan itu diolah Bibiana menjadi lima seri karya pecah belah berbahan dasar porselen Cina. “Fragility” bahan porselen sesuai untuk menggambarkan warga keturunan sebagai kaum minoritas di Indonesia yang pada momen-momen tertentu kerap dicurigai, dijadikan sasaran. Medium porselen dipoles Bibiana dengan warna-warna menyolok khas peranakan, seperti merah muda, kuning, biru, dan turquoise. Di dalamnya ada ornamen burung phoenix dan burung peony. Ia juga menyematkan teks dalam porselen untuk memperkuat wacana politik identitas. Melalui karya ini, Bibiana mengajak untuk memahami persoalan mengenai politik identitas, khususnya hubungan warga keturunan dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia.

Berbeda dengan Bibiana, Indah mengemas identitasnya yang samar melalui karya instalasi berbasis citraan fotografi. Ia menggunakan teknik drawing, transfer ilustrasi, dan grafir pada akrilik. Di akrilik tersebut ditampilkan figur-figur dengan beragam latar belakang, dengan perbedaan sosial, budaya, kelas ekonomi, dan agama. Keragaman figur tersebut menandai pluralitas dalam masyarakat Indonesia yang multikultur. Figur tersebut tumpang tindih dengan simbol-simbol mitos dari budaya masa lalu yang dibuat dengan teknik grafir. Akrilik kemudian ditembak dengan lampu sorot untuk menghasilkan lapisan bayangan. Bayangan samar yang berlapis-lapis itu merupakan refleksi dari identitasnya yang kabur.

Indah lahir dari perkawinan campuran antar etnis dan tumbuh di kota besar sebagai warga kosmopolit. Mengambil sudut pandang sebagai suku Jawa, Indah merasa tak lagi mengenali ke-Jawa-annya. “Identitas” berubah secara dinamis, karena realitas sosial politik yang ia jalani bisa mengubah identitas tersebut. Ia mengibaratkan perubahan identitas seperti metamorfosis kupu-kupu. Karena itulah karya-karya Indah dalam pameran ini seluruhnya berjudul “Butterfly”. Menurutnya setiap identitas telah mengalami metamorfosis atau perubahan yang dinamis, dan juga bergantung pada sudut pandang, baik pemilik identitasnya maupun dari pihak luar.

Pameran yang mengetengahkan politik identitas ini, mempertemukan keragamaan dan identitas di ruang pamer melalui karya seni. Meski wacana identitas mendominasi, namun pameran ini, bukan agitasi atau propaganda, melainkan mengajak orang lain untuk belajar melalui karya seni.

Pameran “id: Sengkarut Identitas” berlangsung di Gedung B Galeri Nasional Indonesia 19 Mei hingga 16 Juni 2019. Publik dapat mengapresiasi karya-karya dalam pameran tersebut mulai pukul 10.00 hingga 18.00 WIB (selama Ramadhan) dan 10.00–19.00 WIB (setelah Ramadhan).