Belian Bawo, Seni Tari

Tari Belian Bawo adalah salah satu tarian tradisional suku Dayak di Kalimantan Timur, yang ikut tampil dalam pesta pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, mewakili pulau Kalimantan bersama tari Enggang dan Hudoq. Nama Belian Bawo berasal dari kata “belian”  yang artinya menyembuhkan orang sakit, dan “bawo” yang berarti gunung atau bukit. Tarian ini termasuk yang bersifat mistis, hanya dibawakan oleh para dukun atau pawang, serta memiliki banyak pantangan dan aturan.

Tari Belian Bawo dijumpai dalam berbagai acara adat, biasanya digelar untuk mengobati orang sakit, dibawakan oleh para dukun yang bertindak sebagai medium dari roh yang nantinya akan memberitahukan sakitnya dan cara-cara pengobatannya. Tarian ini juga digunakan untuk membayar niat atau hajat (kaul), baik secara individu ataupun kelompok masyarakat, yang hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu. Selain itu suku Dayak menggelar tari Belian Bawo sebagai ucapan terima kasih kepada dewata sesuai keyakinan mereka, dan memanggil roh halus yang dalam bahasa benuaq disebut “belih” atau “u’oq”. Dalam melakukan tarian sang dukun/pawang menggunakan bahasa khusus untuk berdialog dengan roh-roh halus (“memang”) yang akan membantunya mengusir gangguan roh-roh jahat. Perlengkapan yang diperlukan dalam tarian ini adalah daun kelapa dan daun kenjuang (sejenis tumbuhan yang biasanya ditanam di atas makam) untuk mengusir roh jahat, dan setangkai mayang kelapa terurai yang digantung di tengah-tengah sebagai pusat dari pawang belian untuk berhubungan dengan roh-roh halus. Para dukun/pawang mengenakan “giring-giring” atau bunyi-bunyian di pergelangan tangan dan kaki.

Irama dan ritme musik pada tari Belian Bawo tidak mentolerir adanya kesalahan, karena akan mengakibatkan kegagalan dalam ritual dan kesurupannya para dukun/pawang yang menari. Untuk mengembalikan keadaan menjadi normal maka musik harus dinetralkan seperti semula. Ritual yang dilakukan adalah untuk mengambil penyakit. Jika penyakitnya disebabkan oleh santet maka pasien dapat memutuskan apakah akan mengirim balik santet tersebut, atau memindahkannya kepada tumbal yang berupa hewan, seperti ayam atau babi. Namun jika bukan karena pengaruh magis dan memerlukan obat-obatan, maka salah satu penari akan terjun dari atas lamin dan menghilang ± 1 jam untuk mencari obat-obatan. Saat ritual berlangsung terkadang di antara penonton ada yang tanpa sadar ikut menari. Jika ritual pengobatan sudah selesai, biasanya irama dan ritme musik berubah menjadi lebih lembut. Ada beberapa pantangan yang wajib ditaati oleh tuan rumah, yaitu tidak diijinkan menerima tamu, suasana di rumah harus sepi, dan tidak diperbolehkan berpergian atau keluar rumah. Biasanya penyelenggara ritual menancapkan daun kayu hidup di samping pintu masuk rumah bagian luar agar khalayak mengetahuinya. Sedangkan pasien tidak diperbolehkan memakan makanan terlarang, seperti asam, rebung, terong, dan semua jenis hewan melata. Pelanggaran atas pantangan-pantangan tersebut bisa mengakibatkan kambuhnya penyakit dan sulit untuk disembuhkan kembali.

Tari Belian Bawo saat ini sudah jarang digunakan dalam ritual pengobatan. Bagi sebagian masyarakat pengobatan dengan tarian Belian Bawo dianggap menakutkan dan menyulitkan dengan banyaknya pantangan. Berkurangnya penerapan ajaran kepercayaan asli suku Dayak sesudah masuknya ajaran Kristen, serta kemajuan bidang pendidikan berpengaruh pada perubahan pola pikir masyarakat yang kini lebih mempercayai pengobatan medis dibandingkan pengobatan tradisional berbau mistis.