BALAI KOTA, WISATA SEJARAH

Gedung Balai Kota yang menjadi kantor Gubernur DKI Jakarta diresmikan sebagai destinasi wisata sejarah pada bulan September 2015. Letaknya tidak jauh dari Monumen Nasional, jika berkendara dengan moda TransJakarta bisa transit di halte Monas kemudian berganti moda dan turun di halte Balai Kota, atau bisa juga naik bus wisata dari halte Museum Nasional Indonesia yang nantinya akan berputar dan berhenti untuk mengambil penumpang persis di depan gedung Balai Kota.

Ide untuk menjadikan Kantor Gubernur atau Balai Kota sebagai destinasi wisata muncul ketika Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahja Purnama, duduk-duduk di sore hari di teras depan setelah penat bekerja. Pemandangan ke arah Monumen Nasional saat Jakarta beranjak gelap sangat dinikmatinya. Ia berpikir tidak semua orang yang tinggal di kota yang sama dengannya bisa menikmati suasana seperti itu. Tidak semua orang Jakarta mempunyai teras yang luas dengan pemandangan bagus untuk dinikmati saat pagi hari atau ketika gelap perlahan datang menutupi langit. Harga tanah yang sudah sangat menggila di Jakarta membuat banyak orang gigit jari, terlebih bagi pekerja biasa. Pemikiran inilah yang mendasarinya mengambil keputusan untuk membuka Balai Kota sebagai destinasi wisata, bukan sekedar duduk-duduk menikmati suasana sekitar Balai Kota di sore hari, tetapi juga mempelajari sejarah yang pernah terjadi di gedung Balai Kota, mengenali pemimpin-pemimpinnya sejak awal ditetapkannya Jakarta sebagai “daerah otonomi khusus”, mencicipi kuliner khas Betawi, dan mendapatkan informasi terkini tentang Jakarta. Akses yang dibuka saat berwisata ke Gedung Balai Kota adalah ruang tamu Gubernur, ruang rapat, ruang tunggu, dan pendopo. Pengunjung diizinkan untuk duduk-duduk di ruang tunggu dan pendopo, serta berfoto di ruang Gubernur. Bagi mereka yang ingin menghabiskan waktu di Balai Kota dengan membaca buku, disediakan mobil perpustakaan di halaman Balai Kota.

Gedung Balaikota tergolong Indische Woonhuis, rumah tinggal khas yang merupakan adaptasi arsitektur klasisisme dengan tuntutan iklim tropis dan  berkembang di daerah Weltevreden masa itu. Rumah tipe Indische Woonhuis didirikan di atas tanah yang luas dan letaknya mundur ke belakang untuk mengurangi debu jalan yang masih berupa tanah dipadatkan. Biasanya tanah kosong di depan rumah ditanami pepohonan besar dan tanaman bunga, selain untuk memenuhi unsur estetis, fungsinya lainnya adalah juga menghalangi debu masuk ke dalam rumah. Bangunan Indische Woonhuis terdiri dari beberapa bangunan, yaitu hoofdgebouw (bangunan induk) dan bijgebouwen (bangunan samping). Pemilik rumah tinggal di hoofdgebouw yang terletak di tengah, ukuran besar kecilnya bangunan induk mencerminkan “kelas” pemiliknya. Bangunan samping yang sifatnya fungsional, terletak di sisi kanan dan kiri bangunan induk, digunakan untuk kamar tamu, kamar mandi, dapur, gudang, WC, kamar-kamar pembantu serta budak, dan kandang kuda. Rumah induk yang memiliki serambi di bagian depan dan belakang menjadi pusat kegiatan. Serambi muka yang luas untuk menerima tamu, duduk-duduk sambil melihat pemandangan dan kesibukan di halaman rumah tetangga yang biasanya dibatasi oleh pagar pendek atau tanaman perdu. Serambi belakang digunakan untuk kegiatan yang lebih bersifat privacy dan membutuhkan keleluasaan, misalnya bermain, santai bersama keluarga, makan, atau acara-acara pesta. Gedung Balai Kota yang termasuk rumah tertua di kawasan Medan Merdeka ini, dahulu  berfungsi sebagai tempat tinggal, yaitu rumah dinas Residen Batavia (1854-1942).

Gedung Balai Kota DKI Jakarta: Jalan Medan Merdeka Selatan No. 8-9

Waktu kunjung Sabtu dan Minggu.

  1. Area dalam ruangan pkl. 09.00 – 17.00 WIB
  2. Area luar pkl. 09.00 – 20.00 WIB