Bajidor Kahot, Seni Tari

Bajidor Kahot merupakan tari kreasi tradisional Jawa Barat yang diciptakan sekitar tahun 2000-an. Sejarah panjangnya berawal dari pemisahan pertunjukan wayang golek dan tari-tarian bajidoran yang disebut Wayang Golek Kliningan. Bajidoran lahir dari kerinduan pecinta kesenian Ketuk Tilu yang saat itu dilarang oleh pemerintah, karena gerakannya dianggap terlalu erotis hingga dikhawatirkan berdampak negatif saat pertunjukan digelar. Adanya sinden (penyanyi atau penari perempuan) serta bajidor (penari laki-laki yang muncul dari penonton) merupakan unsur tari Ketuk Tilu yang mewakili ronggeng (penari) dan pamogoran (penari laki-laki). Tarian ini kemudian digabung dalam pertunjukan Wayang Golek Kliningan, dimana dalang sengaja menyisipkan hiburan berupa sajian lagu-lagu. Saat lagu dilantunkan, penonton yang meminta lagu turun ke arena untuk menari mengimbangi lagu. Dalam perkembangannya acara selingan ini menjadi kegemaran banyak orang bahkan mendominasi pertunjukan wayang goleknya itu sendiri. Akhirnya para pelaku seni pun protes dan meminta “kliningan” dipisahkan dari pertunjukan wayang golek. Tahun 1950-an akhirnya kliningan menjadi pertunjukan terpisah yang berdiri sendiri.

Kliningan-Bajidoran berkembang tahun 1990-an di wilayah lintas pantura Jawa Barat, yaitu Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta, dan Indramayu. Gerak tarinya mirip Jaipongan yang sangat populer di tahun 1980-an, baik gerak tari maupun bentuk pukulan tepak kendang sebagai daya pikat. Bajidor sendiri adalah istilah bagi orang yang gemar menari atau ngibing di pakalangan (arena pertunjukan), memesan lagu, serta memberi uang saweran. Mereka merupakan penggemar fanatik “kliningan”, sehingga akhirnya muncul penamaan Kliningan Bajidoran. Kata “kahot” dalam bahasa Sunda bermakna tua, jadi “Bajidor Kahot” dapat dimaknai sebagai penggemar fanatik kliningan yang berusia tua.

Tari Bajidor Kahot berasal dari tarian rakyat dengan tema pergaulan, mengisahkan keceriaan para remaja puteri yang cantik jelita. Tarian ini berakar dari tari Ketuk Tilu yang bermetamorfosis menjadi Kliningan Bajidoran yang sangat dipengaruhi oleh Jaipongan, dan akhirnya menjadi tari Bajidor Kahot. Gerak tarinya memadukan Ketuk Tilu dan Jaipongan, ditambah beberapa unsur gerakan tari khas Bali. Meski demikian gerakan bahu yang menjadi ciri khas ketiga tarian tersebut tidak terlalu banyak ditampilkan. Tarian ini lebih banyak memadukan gerakan pinggul, lengan, bahu, kepala, dan tangan, menjadi suatu rangkaian gerak yang dinamis. Langkah-langkah kaki juga menjadi bagian dari tari Bajidor Kahot. Gerakannya terlihat dinamis, energik, seksi, dan anggun. Sering kali para penari juga berpindah-pindah membentuk formasi yang menarik. Gerakan gitek, geol, dan goyang, yang menjadi khas Ketuk Tilu dimaknai sebagai upaya memikat para “bajidor” yang ada di arena pertunjukkan, sedangkan gerakan pencak silat sebagai penggambaran cara untuk melawan orang yang akan berniat mengganggu. Permainan kipas besar dan selendang dengan unsur gerak tari khas Bali di bagian pembuka dan akhir, menjadikan tari Bajidor Kahot tampak indah dan unik dibandingkan varian tari bergenre Jaipong lainnya. Para penari mengenakan kebaya khas tanah Pasundan, yang berwarna cerah dan didesain pas dengan bentuk tubuh sehingga penari Bajidor Kahot terlihat menawan.

Iringan musik tari Bajidor Kahot juga berbeda dengan Jaipongan pada umumnya, yang biasanya menggunakan degung dengan laras slendro. Tari Bajidor Kahot  menggunakan Gamelan Gong Kebyar laras pelog lima nada, ditambah kendang atau gendang Sunda dua buah. Dalam memainkan instrumen tabuhan Bali digunakan pola ubit-ubitan. Melodi lagu dibawakan oleh dua pesinden, berpadu dengan alunan suling yang meliuk-liuk dan terdengar mendayu serta biola, sehingga menghasilkan musik yang sangat berbeda dengan lagu-lagu Jaipongan lainnya. Lagu Bajidor Kahot sebagai pengiring tari diaransemen oleh Sambasunda, baik pola permainan laras pelog maupun instrumen yang digunakannya.