Bahasa Isyarat Di Jakarta, Nilai Budaya

Bahasa isyarat atau teks non verbal adalah suatu teks yang berbentuk kode atau isyarat tertentu yang dulakukan oleh seseorang dengan menggunakan gerakan anggota tubuh, mulai dari gerakan kepala hingga kaki. Teks non verbal atau bahasa isyarat ini dilakukan secara tidak sadar oleh orang-orang di Jakarta untuk berkomunikasi dengan orang lain. Teks non verbal digunakan oleh banyak orang dengan berbagai kepentingan sesuai dengan profesi. Para pengguna teks non verbal tersebut antara lain adalah para joki three in one, pengemudi, dan kondektur, para wanita tuna susila, para waria, pedagang kaki lima, orang-orang yang melakukan kegiatan transaksi jual beli, orang-orang yang melakukan aksi kampanye atau unjuk rasa, hingga orang-orang yang melakukan interaksi di lapangan olahraga.

Berbagai teks disampaikan dengan maksud untuk dipahami maknanya, sekaligus untuk direspon balik oleh yang menerima pesan tersebut. Kegiatan tersebut termasuk bagian dari tindakan komunikasi simbolik. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat Betawi dan masyarakat Arab dalam bersalaman. Bersalaman sebagai kebiasaan bentuk isyarat non verbal mereka. Makna yang terkandung di dalamnya untuk memberikan rasa selamat, penghargaan, dan silaturahmi. Selain itu juga sebagai awal perkenalan, perjumpaan, dan perpisahaan. Bagi masyarakat Indonesia sendiri, bersalaman memiliki makna persatuan.

Di Jakarta pada awal tahun 2000-an, setiap pagi sebelum pukul 10.00 di luar kawasan three in one (kawasan tertib lalu lintas yang mengharuskan mobil berpenumpang tiga orang atau lebih) terdapat sejumlah ibu-ibu, remaja lelaki/perempuan, dan anak-anak belasan tahun yang bekerja sebagai joki three in one. Mereka menggunakan jari telunjuknya kepada pengendara mobil sebagai isyarat mereka menawarkan jasa sebagai joki three ini one.