Bacang, Kuliner

Bacang atau bak cang adalah makanan tradisional sejenis kue asin (gurih) yang berasal dari Tiongkok. Penganan ini dibuat dari beras ketan atau beras biasa yang diaron terlebih dahulu lalu diberi aneka isian (ayam, sayuran, daging sapi, kuning telur asin, jamur hioko, udang, dan lain-lain). Setelah itu bacang dibungkus dengan daun bambu, daun pisang, daun pandan liar, atau daun hanjuang. Penggunaan jenis daun yang berbeda akan memunculkan aroma dan cita rasa yang berbeda pula. Agar pembungkus tidak terlepas saat dikukus biasanya diikat menggunakan tali. Ada beberapa bentuk kemasan bacang, lonjong seperti lontong, limas segitiga, dan  kerucut. Nama bak cang berasal dari bahasa Hokkian, yaitu bak yang artinya daging, dan cang artinya ketan. Di Indonesia makanan ini dikenal dengan nama bacang, dan ada juga yang menyebutnya dengan kue beras. Di Bali ada makanan sejenis bacang yang terbuat dari beras ketan dengan ukuran lebih kecil dibandingkan bacang di Jakarta. Mereka menyebutnya kue bantal.

Di negara asalnya bacang paling sering dihidangkan saat Festival Perahu Naga (Dragon Boat Festival atau Duan Wu Jie). Di Indonesia biasanya bacang disantap pagi hari sebagai pengganti menu sarapan yang berat, seperti nasi putih dengan aneka lauk atau nasi goreng. Setiap suku dan daerah di Tiongkok mempunyai versi bacang yang berbeda-beda. Di Asia Tenggara yang umum dijumpai adalah bacang Hokkien, dengan isian jamur hiokio, daging babi, chestnut (lakci), dan sosis (lapciong). Ada dua jenis bacang, manis dan asin. Jenis bacang manis disebut kue cang atau kicang. Di Pontianak, umumnya bacang berisi kacang tanah dan daging cincang, Bangka Belitung menggunakan udang, Pasundan (Jawa Barat) dan Jakarta umumnya diisi dengan daging ayam.

Bentuk bacang yang bersudut empat mengandung makna tersendiri. Sudut pertama atau zhi zu, artinya merasa cukup dengan apa yang dimiliki, dengan kata lain manusia tidak boleh serakah. Sudut kedua atau gan en, artinya kita tidak boleh iri dengan apapun yang dimiliki oleh orang lain. Sudut ketiga adalah shan jie yang artinya pikiran positif, maksudnya orang harus menilai sesamanya dari sisi baik. Sudut keempat adalah bao rong yang artinya merangkul bermakna bahwa manusia harus mampu mengembangkan cinta kasih kepada sesama.

Warga keturunan Tionghoa di Indonesia memperingati Hari Bakcang atau Peh Cun setiap tahun pada hari kelima bulan lima penanggalan Lunar atau kalender Imlek. Konon kehadiran bakcang atau bacang terkait dengan tokoh bernama Qu Yuan, pejabat penting yang cukup berpengaruh layaknya menteri di Tiongkok masa itu. Yuan adalah tokoh yang berhasil mempersatukan enam negeri dalam wadah Negeri Cho, lalu bersama-sama menyerang Negeri Chien yang dianggap mengancam. Negeri Chien kemudian menyerang balik dengan menyebar fitnah sehingga Yuan terusir dari negerinya sendiri dan diasingkan. Pada tahun 278, saat berada di pengasingan, Yuan mendengar kabar bahwa pasukan Chien menyerbu ibu kota negara. Ia pun meluapkan amarah dengan menuliskan sajak berjudul Li Sao yang berarti jatuh dalam kesukaran. Selepas menulis sajak, Yuan menaiki perahu di Sungai Bek Lo dan menceburkan diri. Penduduk merasa khawatir jika Yuan dimakan ikan. Lalu mereka melemparkan bakcang ke sungai sambil menabuh genderang supaya ikan-ikan tidak memakan Yuan. Kegiatan melempar bakcang lantas menjadi ritus yang dilakukan terus-menerus setiap tahun untuk mengenang jasa Yuan hingga sekarang.

Bahan:

  1. 2 cup beras ketan yang sudah direndam
  2. 1 sendok teh kecap asin
  3. 1 sendok makan kecap manis
  4. 1 sendok teh minyak wijen
  5. 1 sendok teh lada putih
  6. 2 sendok makan ebi, rendam dan tiriskan
  7. 2 siung bawah putih, cincang
  8. Minyak sayur secukupnya
  9. Daun bambu secukupnya (rendam, kemudian cuci bersih)

Bahan isian:

  1. Jamur hioko secukupnya
  2. Daging sapi cincang
  3. Kacang tanah rebus
  4. Kuning telur asin

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak sayur, lalu tumis ebi dan bawang putih hingga harum.
  2. Masukkan beras ketan, aduk hingga tercampur rata. Kemudian tambahkan lada, minyak wijen, kecap manis, dan kecap asin, aduk kembali. Angkat dan sisihkan.
  3. Ambil dua helai daun bambu, masukkan beras ketan. Lalu tambahkan isiannya sesuai selera. Bentuk daun menjadi segitiga.
  4. Rebus bacang kurang lebih 2 jam dan pastikan bacang benar-benar matang.
  5. Sajikan selagi hangat.