Arsitektur

Orang Betawi mempunyai tata cara dalam membangun rumah. Ada tahap-tahap yang harus dijalani dengan mengikuti tradisi turun-temurun.  Ini dimaksudkan agar keseimbangan alam sekitar tetap terjaga. Pemilihan lokasi, perataan tanah, pendirian tiang guru, dan sebagainya harus disertai dengan selametan.

Rumah tradisional Betawi dibuat dari bermacam-macam bahan yang tersedia. Tergantung dari kemampuan pembuatnya. Ada yang dibuat menggunakan bahan bambu. Ada yang dibuat menggunakan bahan kayu. Ketika bangsa kita dijajah Belanda, orang Betawi meniru cara Belanda membangun rumah. Mulailah berkembang membangunan rumah dari batu. Tetapi umumnya rumah tradisional Betawi dibuat menggunakan bahan dari kayu. Jenis kayu yang dipilih kayu nangka, kayu cempaka, dan lain-lain. Jenis kayu asem biasanya tidak digunakan.

Rumah joglo dan rumah Bapang dibagi menjadi dalam tiga ruang. Ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.  Sedang rumah Gudang terkesan dibagai dalam dua ruang. Ruang depan dan ruang tengah. Ruang belakang dari rumah Gudang tetap ada. Tapi penataan ruangnya samar-samar.

Ruang depan adalah serambi. Di serambi diletakkan balai-balai atau kursi tamu. Di serambi tempat menerima orang bertamu.  Ruang tengah disebut ruang dalam. Ruang dalam adalah bagian pokok rumah Betawi.  Di sini  ada kamar tidur dan kamar makan. Kamar dalam bahasa Betawi disebut pangkeng. Ruang belakang adalah dapur tempat untuk memasak.

Rumah tradisional Betawi kini sudah langka. Rumah-rumah tua yang ada di daerah Condet sudah rusak. Akhirnya diruntuhkan dan diganti rumah modern. Di taman Mini Indonesia Indah ada satu contoh rumah tradisional Betawi.