Ajeng Sumekar, Seni Tari

Ajeng Sumekar adalah tari kreasi tradisional Betawi yang terinspirasi dari gamelan ajeng, tari Blenggo, dan tari Topeng. Gamelan ajeng adalah musik folklorik Betawi yang dipengaruhi oleh musik Sunda atau Ajeng Sunda. Awalnya pertunjukan  gamelan ajeng hanya digelar untuk memeriahkan hajatan, seperti khitanan dan pernikahan. Tempat untuk meletakkan perangkat gamelan dan memainkannya pun harus khusus, berupa  panggung setinggi dua meter yang disebut “pajengan”. Gamelan ajeng sebenarnya hanya dimainkan sebagai kesenangan semata (klangenan) untuk mendengarkan lagu-lagu Betawi dan bukan sebagai pengiring tarian. Dalam perkembangannya gamelan ajeng kemudian dijadikan musik pengiring tari Blenggo Ajeng yang dibawakan oleh penari laki-laki. Seiring waktu muncul tari Ajeng Sumekar yang menggambarkan bahwa perempuan Betawi juga mempelajari silat untuk bela diri sekaligus blenggo (menari). Di era sekarang pun banyak kegiatan ekstra kulikuler bela diri silat yang diminati oleh perempuan.

Gerakan tari Ajeng Sumekar mengadopsi gerakan tari Topeng dan Blenggo. Struktur gerakannya terdiri dari:

  1. Gerak Ngecep Lenggang Kanan Kiri. Badan menghadap samping, tangan lurus di depan dada dan tangan lain di pinggang. Kaki menyilang dan melangkah seperti menggenjot. Dilakukan bergantian ke kanan dan ke kiri.
  2. Gerakan Silang Kewer. Posisi tangan ukel satu sambil melangkah ke kanan dan kiri. Dilanjutkan dengan tangan menyentuh pundak lalu membuka ke samping dan tangan lainnya di depan dada.
  3. Gerakan Ngencep Ayun Tangan, Koma, Goyang Pundak, Koma. Kaki menyilang, ayun menggenjot. Satu tangan lurus ke depan, tangan lainnya sejajar pinggang, dilakukan bergantian. Lalu gerak Koma, tangan diayun ke pundak dan samping sambil melompat ke belakang lalu berputar, ukel tangan. Langkahkan kaki sambil mengayun tangan secara bergantian.
  4. Gerakan Kewer Variasi. Posisi kaki menyilang, langkah seperti biasa. Tangan menyilang di depan buka ke samping dan angkat ke atas.
  5. Gerakan Nindak Selancar Tiga. Gerakan kaki berjalan ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan diayun menyilang di depan dada dan dibuka ke samping. Dilakukan bergantian ke arah sebaliknya.
  6. Gerakan Nindak Selancar Kagok. Melakukan gerakan seperti nindak selancar tiga dengan gerakan yang lebih cepat (double step).
  7. Gerakan Koma Geleyong. Gerak berputar dengan tangan ukel di samping.
  8. Gerakan Nindak Gibang. Gerakan kaki seperti melompat ke kanan dan ke kiri, dengan posisi tangan di depan dada dan tangan lainnya sejajar pinggang. Dilakukan bergantian ke kanan dan ke kiri.
  9. Gerakan Nindak Empat. Gerakan kaki titik ke depan, bergantian kanan dan kiri, dengan posisi tangan diayun ke samping, gerakan membuka dan angkat ke pundak.
  10. Gerakan Ngincik Goyang Tangkis Kanan Kiri. Langkah kaki menyilang ke arah samping dan ke depan, tangan ukel di depan dada dan ke samping sejajar pundak secara bergantian. Kemudian ayunkan tangan bersamaan dengan langkah kaki lalu goyang ke kanan dan ke kiri. Angkat tangan ke atas dan tangan lainnya di depan dada seperti gerakan menangkis.
  11. Gerakan Gonjingan Tumpang Tali. Gerakan kaki ke depan secara bergantian dengan posisi tangan satu di pundak dan tangan lainnya lurus ke atas. Lalu kaki menyilang dengan posisi tangan menumpang di depan dada, badan bergerak naik turun sambil memutar pundak.
  12. Gerakan Gonjingan Gerak Tangan Di Ukel. Melakukan gerakan seperti gonjingan tumpang tali, hanya saat gerakan terakhir tangan kanan diputar di bawah tangan kiri selaras dengan kepala.
  13. Gerakan Koma Nincik Silat. Kaki melangkah mincik dengan kombinasi gerak tangan silang dilanjutkan dengan gerakan silat Betawi yaitu menusuk, menangkis, dan memukul.
  14. Gerakan Blenggo Lambat Dan Cepat. Kaki menyilang dengan posisi tangan kanan mengepal di samping dan tangan kiri di depan dada. Ayun badan menggenjot lambat dan kemudian cepat.
  15. Gerakan Ayun Selendang Mincit Akhir. Gerakan kaki ke kanan dan ke kiri dengan posisi tangan kanan mengayunkan selendang, kemudian langkah menyilang dengan kedua tangan diayun ke kanan dan ke kiri.

Busana penari berupa kebaya pola lengan tiga warna, sedangkan bagian bawah celana panjang yang dilapisi kain batik Betawi. Toka-toka lebar model teratai menutupi bagian dada. Amprek yang panjangnya hingga ke lutut dipasang di pinggang untuk menutupi tubuh bagian depan. Selendang yang berfungsi sebagai aksesoris sekaligus properti tari dikaitkan pada ikat pinggang. Rambut di konde cepol dan mengenakan hiasan kepala berupa rangkaian bunga yang dibentuk menjadi semacam sigar (mahkota), lengkap dengan tusuk konde beronce di belakangnya. Wajah menggunakan penutup semacam siangko dengan rumbai-rumbai.