Ahmad Sadali, Seni Rupa

Ahmad Sadali, adalah seorang pelukis Abstrak, lahir 24 Juli 1924 di Garut, Jawa Barat, meninggal  19 September 1987, di Bandung.  Ia berasal dari keluarga yang akrab dengan dunia batik dan cetak-mencetak. Kantor percetakan ayahnya dan tempat kerja bagi para pembatiknya, tidak saja memberikan kepada anak muda suasana kesenian, tetapi juga bahan-bahan yang tepat  yang beraneka ragam dan warna, semua tersedia baginya untuk segera di manfaatkan sebagai latihan –latihan pentas dasar bagi pekerjaan nya  di kemudian hari.

Sadali mengenyam  pendidikan  dari kecil di Garut., mulai dari HIS, belajar di madrasah Muhammadiyah, hingga MULO. Ia  lalu meneruskan pendidikan tingkat SMTA d kota Yogyakarta., kemudian masuk Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1944-1945). Pada tahun 1948, disamping aktifitasnya sebagai pelukis yang menghasilkan banyak karya, Sadali masuk Fakultas Guru Gambar di FSRD ITB, di bawah bimbingan Ries Mulder. Setelah menyelesaikan studi nya di FRSD ITB (1953), ia di angkat menjadi tenaga pengajar di Fakultas tersebut. Kemudian pada tahun 1956,  ia mendapat beasiswa untuk belajar ilmu seni  rupa di Departement of Fine Arts,University of Iowa dan di New York Art Student League (1956 – 1957).

Dalam perjalanan karir akademiknya, Sadali mendapat kepercayaan untuk membangun berdirinya Departemen Seni rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB).  Kemudian ia tiga kali di pilih sebagai Dekan Fakultas (1962 – 1968), tiap kurun waktu adalah dua tahun. Setelah itu ia di pilih menjadi Deputi Rektor untuk Urusan Luar ITB dalam dua kurun waktu (1969 – 1973) dan (1973 – 1977). Hingga akhir hayatnya, perjalanan akademik Sadali telah mengukuhkan nya menjadi seorang Profesor.

Sementara pada awal karir melukisnya, kecenderungan kubistik begitu kuat mempengaruhi gaya lukisan Sadali. Namun, seiriing berjalannya waktu, Sadali terus mengembangkan gagasan baru dalam karyanya, terutama setelah kepulangannya dari Amerika. Kecenderungan abstrak dan kaligfarfi Islam semakin kuat mewarnai  karya-karyanya. Ia kemudian di kenal sebagai pelukis bernuansa kaligrafi religius. Walaupun demikian, ia cukup produktif berkarya dalam berbagai seni rupa lainnya, antara lain: sketsa, patung, mural, interior dan grafik.

Sebagai seniman lukis yang telah banyak menghasilkan karya-karya, Sadali telah mengikuti berbagai macam pameran secara individu maupun kelompok, lingkup nasional maupun internasional, serta mendapatkan banyak penghargaan, antara lain:  Pameran di “Arte Contemporance Indonesia” Rio de Janeiro (1964), menjadi peserta terbaik dalam pameran “Sebelas Seniman Bandung” (1966), menerima penghargaan Anugerah Seni dari Pemerintah RI (1972), Penghargaan sebagai Pemenang Pertama Biennale Lukisan Indonesia di Jakarta (1974), penghargaan Seni dari Pemerintah Australia (1977), memperoleh Hadiah Juara III UNESCO untuk desain (1978), serta penghargaan sebagai Pemenang Pertama Biennale Lukisan Indonesia di Jakarta (1978).

Semasa hidupnya, selain sebagai pengajar dan pelukis, Sadali memiliki kegiatan sosial kemasyarakatan yang luas, ia menjadi salah satu inisiator berdirinya Perguruan Tinggi Islam (PTI) yang kini bernama Universitas Islam Bandung (UNISBA). Di akhir hayatnya, Sadali menjadi Ketua Umum Pembinaan Masjid Salman ITB.