ADNAN BUYUNG NASUTION

Ahli hukum, pelopor lembaga bantuan hukum di Indonesia sekaligus pendiri Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (LBH, 1970). Ia tampil sebagai pembela hukum yang gigih, terutama bagi rakyat kebanyakan yang buta hukum. Pada tahun 1960-an ia juga pendiri Gerakan Pelaksana Ampera dan menjadi ketuanya (1964-1966).

 

Buyung lahir di Jakarta, 20 Juli 1934 ia sulung dari dua bersaudara. Masa kecilnya sulit. Ia terpaksa menjadi tukang loak yang berjual beli barang bekas. Ibunya berjualan cendol, sedangkan ayahnya R. Rachmad Nasution (wartawan kawakan yang pernah memimpin LKBN Antara) bergerilya. Ketika di SMP, ia bergabung dalam aksi pelajar menentang pembukaan sekolah Belanda NICA di Yogyakarta. Pada tahun 1951 ia pindah ke Jakarta, dan menjadi Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) cabang Kebayoran. Namun ia membubarkan IPPI, karena organisasi yang ia pimpin ini menjadi anggota International Union of Student (IUS) yang mendukung komunis.

 

Tahun 1954, Buyung kuliah di jurusan Teknik Sipil ITB (Bandung). Hanya setahun di jurusan itu, ia lalu kuliah di Fakultas Hukum, Ekonomi dan Sosial Politik UGM (yogyakarta) dan kemudian kembali lagi ke Jakarta, dan meraih gelar sarjana muda hukum dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1957). Sambil terus kuliah , ia bekerja di Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta sebagai jaksa dan kepala hubungan masyarakat. Saat inilah ia memutuskan menjadi pembela, karena lebih sering melihat rakyat kecil yang diajukan ke pengadilan. Pekerjaannya itu terputus hingga tahun 1966 karena ia dipecat dengan tuduhan anti-Manipol dengan gagasannya mendirikan sebuah lembaga bantuan hukum.

 

Buyung diangkat menjadi anggota DPR/MPR-RI sebagai wakil kaum cendekiawan (1966-1968), karena dinilai memiliki andil dalam menegakkan Orde Baru. Ketika itu ia juga duduk sebagai Kepala Humas Kejaksaan Agung. Pada tahun 1969 ia memilih berhenti sebagai jaksa, dan memutuskan untuk mendirikan kantor advokat dan konsultasi hukum Adnan Buyung Nasuiton & Associates. Ia kemudian mendirikan LBH dan menjadi direktur dewan pengurusnya (1970-1980).

 

Beberapa kali Buyung bertindak dituduh subversi karena kegigihannya membela kepentingan hukum rakyat kecil. Pada 1972, dinobatkan sebagai Man of The Year oleh Harian Indonesia Raya. Setelah peristiwa Malari 1974, ia ditahan selama hampir dua tahun. Setelah bebas, Buyung menerima The International Legal Aid  Award di Stockholm, penghargaan yang seharusnya diterimanya saat masih di dalam tahanan. Buyung merupakan pendiri Regional Council on Human Rights in Asia (Manila, Filipina) dan pernah duduk sebagai ketuanya. Selain itu Buyung juga menulis sejumlah buku, diantaranya Bantuan Hukum di Indonesia (LP3ES, 1981) dan Access to Justice.

 

 

 

Pria yang akrab disapa “Abang” oleh para koleganya ini juga sempat mendapat kepercayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang Hukum periode 2007-2009. Buyung meninggal dunia pada hari Rabu tanggal 23 September 2015 di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan setelah sempat menjalani perawatan kesehatan.

 

ustice.