ACARA SELAMA BULAN PUASA

Dalam masyarakat Betawi untuk mengisi bulan Ramadhan dilakukan beberapa kegiatan seperti ziarah kubur, mengaji, buka puasa bersama, dan tarawih. Ziarah kubur yang dilakukan masyarakat Betawi hanya membersihkan kuburan dan berdoa. Kegiatan mengaji yang dilakukan pada bulan Ramadhan tidak berbeda dengan bulan-bulan lainnya, hanya saja pada 17 dan 27 Ramadhan kegiatan ini dapat dilakukan semalaman penuh. Sedangkan kegiatan buka puasa bersama dilakukan oleh laki-laki di Mushola atau langgar setiap hari dengan makanan seadanya yang disediakan dan dibawa dari rumah masing-masing. Tarawih dilakukan setiap hari setelah sholat Isya di Mushola atau langgar.

Selama bulan Puasa, kampung akan terang dengan hiasan colen. Colen merupakan lampu sederhana yang terbuat dari lampu minyak yang tabung minyaknya terbuat dari ruas bambu, pepaya muda, dan kaleng bekas. Pemasangan colen semakin meriah pada malah tujulikur (malam 27 Ramadhan) dan malam takbiran. Pada tanggal 17 Ramadhan tadarusan yang dilakukan lebih ditingkatkan di rumah maupun di masjid, karena pada malam ini merupakan turunnya kitab suci Al-Qur’an. Pada malam tujulikur (27 Ramadhan) dipercaya bahwa Allah membukakan pintu taubat dan pintu rahmat sebesar-besarnya. Hal ini ditanggapi oleh orang Betawi tempo dulu dengan melakukan sholat sunnah sebanyak-banyaknya atau membaca Al-Qur’an sepanjang malam tanpa tidur.