Abdul Rivai

Perintis pers di Indonesia, anggota Volksraad selama tiga periode (1918-1923) pada zaman Gubernur Jenderal van Limburg Stirum.

Rivai belajar di Sekolah Dokter Jawa di Jakarta, dan lulus pada 1918. Setelah itu meneruskan studi di Belanda (1899) sampai memperoleh gelar art (dokter) pada tahun 1909. Selama belajar di negara itu, ia menjadi wartawan berbagai surat kabar, mengajarkan bahasa Melayu kepada sejumlah orang Eropa, dan menerjemahkan beberapa novel, antara lain karya Emile Zola. Selain itu, ia menerbitkan surat kabar berkala Pewarta Wolanda sampai tahun 1901.

Sebagian besar perjuangan Rivai dilancarkan melalui pena. Lewat tulisan-tulisannya di Algemeen Handelsblad, ia antara lain memperjuangkan hak orang-orang pribumi untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk menunjang perjuangannya, bersama seorang kapten KNIL, ia menerbitkan surat kabar Bandera Wolanda, yang terbit dua mingguan, namun tidak bertahan lama.

Kritik Rivai terhadap pemerintah Belanda juga menyangkut perlakuan tidak adil Belanda terhadap anak jajahan, terutama dalam bidang pendidikan dan penetapan besar gaji antara pegawai Belanda dan bumiputra.

Setelah kembali di Indonesia (1911), ia bekerja di Rumah Sakit Militer di Cimahi. Setelah itu, ia pindah ke Padang dan Semarang. Kariernya terus menanjak. Pada tahun 1918 ia menjadi anggota Volksraad. Dalam kedudukannya itu, bersama dr. Radjiman ia pergi ke Belanda menghadiri Kongres Pengajaran Kolonial yang kedua. Rivai pernah dianjurkan menjadi warga negara Belanda, tetapi ia menolak. Ia tutup usia di Bandung dan dimakamkan di kota itu. beberapa buku dikarangnya, antara lain Koloniale Tragedie.