Zoologi, Museum

Suatu lembaga atau badan pemerintah dengan tugas utama melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang Zoologi. Terletak di Kotamadya Bogor, karena itu dinamakan Museum Zoologi Bogor, atau lebih dikenal dengan nama ilmiah Museum Zoologicum Bogoriense. Oleh penduduk Bogor museum ini sering disebut juga "gedung belau", berasal dari kata blauw (Belanda) yang berarti biro, yakni warna atap gedung tersebut yang biro. Kemudian, lembaga ini disebut Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi, yang disingkat Balitbang Zoologi. Sebenarnya kedua istilah tersebut sama saja, jika arti museum sudah dipahami benar. Museum merupakan salah satu instansi atau balai yang menyimpan, merawat, dan melestarikan koleksi benda hidup atau pun mati yang dilengkapi dengan data ilmiah guna sarana penelitian dan pengembangan, pendidikan, sumber informasi sumber inspirasi, dan rekreasi atau pariwisata.

Museum Zoologi didirikan tahun 1894. Mulanya hanya berupa sepetak ruang kerja yang dinamakan Laboratorium Zoologi. Pada awalnya laboratorium ini berfungsi sebagai tempat penelitian dan penelaahan hama pertanian, terutama serangga hama. Pada kenyataannya, kegiatannya tidak terbatas pada penelitian serangga saja, tetapi juga penelitian berbagai jenis fauna Indonesia. Tahun 1901 diadakan pameran Zoologi dengan tujuan memasyarakatkan Zoologi, terutama tentang pengenalan jenis-jenis fauna Indonesia, di kalangan siswa, mahasiswa, masyarakat umum, dan ilmuwan. Selanjutnya, Laboratorium dan Pameran Zoologi tersebut diresmikan menjadi Museum Zoologi Bogor. Tahun 1986 instansi atau lembaga ini dinamakan Balai Penelitian dan Pengembangan Zoologi, disingkat Balitbang Zoologi.

Di museum ini terdapat koleksi fauna hasil pengawetan maupun replika yang disusun menjadi 45 buah diorama. Diorama-diorama itu tersusun rapi berdasar klasifikasinya, sehingga menggambarkan jenis fauna tertentu dengan habitat lingkungan hidupnya. Misalnya di dalam diorama tentang Taman Nasional Ujungkulon ditampilkan habitat rusa, banteng, dan harimau; di dalam diorama fauna burung terdapat koleksi berbagai jenis burung dari yang paling kecil (burung pengisa madu) sampai yang paling besar (burung kasuari). Koleksi binatang di Museum Zoologi ini meliputi sekitar 12.000 jenis mamalia, 40.000 jenis burung, 11.000 jenis reptilia dan amfibia, 10.000 jenis ikan, 30.000 jenis moluska, 25.000 jenis invertebrata, dan 150.000 jenis serangga. Selain itu di museum ini juga tersimpan koleksi awetan jenis burung dan serangga yang berasal dari tahun 1860-an. Bahan yang digunakan untuk mengawetkan binatang di museum ini adalah arsenikum atau warangan.

Pengelolaan Museum Zoologi dilaksanakan oleh Departemen Pertanian (1894-1962), Departemen Urusan Research Nasional atau Durenas (1962-1966), Lembaga Research Nasional atau Lemrenas (1966-1967), dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI (sejak 1967). Balitbang Zoologi berada di bawah Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi (Puslitbang Biologi), Deputi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), LIPI. Kepala Balitbang Zoologi dibantu oleh seksi Pengembangan Sarana (Bangsar) dan para staf peneliti maupun kurator, di antaranya, Laboratorium Biosistematika Taksonomi Ekologi, Fisiologi, Parasitologi, dan Etologi: Pimpinan Museum Zoologi sampai Balitbang Zoologi adalah Dr. J.c. Koningsberger (1894-1919), Dr. K.W Dammermann (1919-1940), M.A. Lieftinck (1940-1951), A.M.R. Wegner (1951-1959), Dr. S. Kadarsan (1959-1962 dan 1972-1977), Dr. S. Adisoemarto (1977-1986), dan Drs. Moh. Amir MSc. (sejak 1986).