Zong-ci

Klenteng leluhur atau rumah untuk menyimpan abu (perabuan) dan sering juga disebut klenteng marga (dan temples). Klenteng jenis ini dapat dijumpai pada semua periode sejarah masyarakat Tionghoa di Batavia baik pada abad ke-18 atau akhir abad ke-19. Faktor yang pada awalnya mungkin mendorong orang dengan nama keluarga sama untuk berkelompok dan bersama-sama membangun suatu ruang pertemuan, rupanya telah berubah. Meskipun demikian, alasannya selalu sama, yakni pemujaan nenek-moyang. Klenteng keluarga Lin dan Chen mesti keluarga yang penting dan Gong-guan. Sebab, banyak kapitan dan letnan berasal dari keluarga kaya kaum pen [removed][removed] gusaha, pedagang dan kontraktor.

Klenteng Chen-shi-zu di Jl. Blandongan No. 97 dan Tian-hou di Jl. Bandengan Selatan, masih merupakan pusat kegiatan yang menonjol. Meskipun pemujaan nenek moyang agak dikesampingkan, namun kegiatan sosio-budaya masih diadakan di klenteng tersebut dan membuktikan, bahwa identitasnya tetap dipertahankan. Pada akhir abad ke-19, ditandai dengan kedatangan banyak imigran Hakka dari golongan sosial yang lebih rendah, zong-ci, baik yang bersifat komunal maupun pribadi (milik keluarga Chen, Zhang dan Liu) juga bertindak sebagai perkumpulan gotong-royong.