Zainal Zakse

Seorang wartawan dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Lahir tanggal 4 Januari 1938 di Binjai Sumatera Utara, meninggal tanggal 8 Mei 1967 di Leiden Nederland. Sewaktu SMP, Zainal aktif dalam organisasi. Mula-mula ia aktif sebagai anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) dan ketika terjadi perpecahan di dalam tubuh IPPI ia memihak pada IPPI Pancasila. Kemudian ia melanjutkan ke SMA dan tertarik pada Gerakan Pemuda Sosialis. Tahun 1959, Zakse turut dalam delegasi Sumatera Utara ke konggres Pemuda. Setelah konggres, ia bermaksud untuk tinggal di Bandung, tapi karena kurang cocok, akhirnya ia menuju Jakarta. Setel [removed][removed] ah itu, ia masuk Jurusan Sejarah FS-UI dan bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Sosialis.

Ia adalah pemuda sosialis kerakyatan yang semasa hayatnya hidup dalam kekurangan. Ia sering keluyuran dl malam hari, nongkrong di warung kopi pinggir jalan mendengarkan keluh kesah rakyat dari dekat: Dialognya dengan hidup dan kehidupan dan dekat selalu menggerakkan hatinya untuk mengabdi kepada rakyat pada amanat penderitaan rakyat dengan karya-karya pengorbanannya yang nyata. Tanggal 1 Oktober 1966 para mahasiswa memperingati gugurnya Pahlawan Revolusi dengan memancangkan lukisan para pahlawan itu di muka Istana. Tetapi keesokan harinya lukisan-lukisan itu disingkirkan oleh pasukan pengawal istana. Tindakan pengawal istana itu menyinggung perasaan para mahasiswa. Mereka kemudian mencoba masuk ke lapangan sekitar Monumen Nasional untuk meminta kembali lukisan para pahlawan Revolusi. Akan tetapi suasana berubah menjadi panas. Pasukan pengawal Istana mengejar-ngejar para mahasiswa dan bahkan di beberapa tempat terjadi tindakan kekerasan.

Bentrokan itu terjadi juga di gedung RRI. Para mahasiswa dikejar-kejar termasuk orang-orang yang ada disekitarnya. Saat itulah, ia disudutkan ke pagar besi di dekat RRI oleh beberapa anggota pasukan pengawal istana. Walaupun sudah mengatakan bahwa ia adalah wartawan, tetapi tidak urung dihujani juga oleh popor senjata yang beralaskan besi dan ditusuk dengan sangkur. Rekan wartawan lainnya segera membawanya ke RS Bersalin Budi Kemuliaan, kemudian ke RS Cipto Mangunkusumo. Setelah itu diterbangkan ke negeri Belanda untuk upaya penyembuhan, ternyata Zakse tidak bisa diselamatkan lagi. Ia ditetapkan sebagal Wartawan Pahlawan Ampera.