Ursulin, Susteran

Kelompok suster yang peduli dengan rendahnya pendidikan di Hindia Belanda akibat kurangnya perhatian pemerintah, khususnya bagi para gadis. Datang ke Batavia atas undangan Trancken. Susteran Ursulin didirikan suster-suster Ursulin dari Rotterdam atas undangan Monsignur PM. Trancken. Asramanya terdiri dari sebuah asrama besar (Groote Clouster) dan asrama kecil (Kleine Clouster). Istilah besar dan kecil ini bukan menunjuk pada ukuran bangunan tapi pada jumlah suster di setiap asrama. Sampai sekarang dua asrama ini masih ada dan dikelola oleh sebagian suster dari Indonesia.

Asrama Groote Clouster (large convent) merupakan asrama besar milik suster Ursulin yang terletak di sebuah bangunan besar tingkat dua di Noordwijk (Jalan Juanda) di depan pemukiman resmi Gubernur Jenderal yang dibeli para suster seharga f 30.000 sebagai asrama sekaligus sekolah. Sekolah dibuka pada 1 Agustus 1856 namun asrama sudah menerima tiga gadis pada 13 Mei 1856. Sampai bulan Oktober, sudah mencapai 62 siswa TK dan 295 siswa SD. Asrama besar masuk dalam wilayah kepausan Roma pada tahun 1907.

Kleine Klooster merupakan asrama kecil milik para Suster Ursulin saat mulai berkarya di antara anak-anak keluarga miskin dan yatim piatu dengan menggunakan sebuah rumah di daerah Pasar Baru sebagai asrama dan ruang kelas. Karena rumah terlalu kecil, pada 18 Januari pindah ke sebuah rumah di Postweg (Jalan Post). Pada 1888 diadakan perluasan gedung asrama kecil yang mencakup sayap bertingkat sampai ke belakang di sisi kiri dan sebuah kapel di sisi kanan. Asrama kecil sampai 1939 belum masuk dalam wilayah kepausan Roma.

Tujuh suster Ursulin berangkat dari Rotterdam pada tanggal 20 September 1855 dan tiba di pantai Batavia pada tanggal 5 Februari 1856 sebelum mendarat dua hari kemudian. Tanggung jawab yang berat ditambah dengan kondisi yang tidak akrab dan wabah penyakit (kolera dan tipus) yang sering terjadi, menjadi tekanan dalam karya Suster Ursulin. Salah satu suster meninggal karena demam empat hari setelah tiba di Batavia dalam usia 27 tahun. Menyusul kemudian 5 dari 7 suster tersebut meninggal (1856-1863). Salah satunya baru berusia 23 tahun. Kelompok kedua dengan 8 suster tiba di Batavia dan Belanda pada bulan April 1858 setelah perjalanan 6 bulan. Karya mereka sampai sekarang diteruskan oleh suster yang kebanyakan dari Indonesia.