ULAMA

Seorang yang mempunyai pengetahuan luas dan mendalam mengenai masalah agama tanpa mengabaikan pengetahuan umum. Ia mempunyai kesalehan yang tinggi, baik dalam ucapan maupun perbuatan sehari-hari, berani menegakkan yang hak dan melawan segala kebatilan, ia mempunyai murid dan pengikut yang luas dan juga mempunyai nasab atau keturunan yang baik.

Seorang ulama merupakan orang-orang yang diakui sebagai cendekiawan atau sebagai pemegang otoritas pengetahuan agama Islam. Mereka adalah para imam masjid-masjid besar (agung), para hakim, guru-guru agama pada universitas (perguruan tinggi Islam), dan secara umum merupakan lembaga kelompok terpelajar atau kalangan cendekiawan yang memiliki hak penentu atas permasalahan keagamaan.

Secara harfiah ulama berarti "orang yang mengetahui" atau ilmuwan. Ulama Islam (disingkat ulama) adalah orang yang mempunyai pengetahuan tentang ajaran-ajaran Islam, bersumber dari Al Qur'an dan Al Hadist. Peranan Ulama dalam perjalanan penyebaran agama Islam memiliki peran yang sangat penting, sehingga mereka mendapat sebutan sebagai pewaris para Nabi. Peranan mereka sepanjang masa secara garis besar sama, meskipun konsep dan pendekatan yang digunakan mengalami perbedaan.

Perkembangan Islam di Jakarta berawal dari didudukinya Sunda Kelapa oleh Fatahillah yang kemudian diubah menjadi Jayakarta. Namun saat Jayakarta jatuh ke tangan Belanda, umat Islam mengalami krisis kepemimpinan, diperparah lagi dengan pembakaran kraton dan masjid oleh Belanda. Meskipun demikian masyarakat Jayakarta masih dapat mendirikan masjid dan langgar kecil sebagai pembinaan umat dibawah bimbingan dan tanggung jawab ulama, yang dikemudian hari melahirkan kebudayaan Betawi. Dalam pembentukan kebudayaan tersebut, Badri Yatin (dosen Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta) membagi ulama menjadi tiga golongan, yaitu: Ulama Banten, Ulama Haji Betawi, dan Ulama Jakarta Asal Arab Hadramaut.

Seseorang agar dapat disebut sebagai ulama besar, berpengaruh dan disegani setidaknya harus memiliki beberapa syarat, diantaranya: 1) Seorang ulama mempunyai pengetahuan yang luas dan dalam, terutama yang menyangkut pengetahuan agama, tanpa mengabaikan penguasaan pengetahuan umum; 2) Memperlihatkan kesalehan yang tinggi, tidak hanya dalam ucapan, tetapi juga dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari; 3) Mempunyai keberanian untuk menegakkan segala yang hak dan melawan segala kebatilan. Keberanian ini juga harus diperlihatkan dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari; 4) Mempunyai mood dan pengikut yang luas, baik yang berasal dari madrasah atau pesantrennya sendiri, maupun dari luar, termasuk dari lingkungan masyarakat; 5) Kadangkala popularitasnya dikaitkan pula dengan faktor keturunan. Karena tidak jarang masyarakat memandang pengaruh seorang ulama dari asal keturunannya. Meskipun hal kelima ini tidak harus mutlak, namun pandangan masyarakat mengenai keturunan ulama, seperti habib, sayid, atau syekh ikut memberi citra tertentu mengenai keulamaan seseorang.