UKUR, DIPATI

Tokoh sejarah yang menjadi bupati Ukur dan bupati wedana Priangan serta ikut menyerang Kota Batavia pada tahun 1628. Menurut sumber tradisi, dia yang semula bernama Pangeran Cahyana adalah putera Sunan Cahya Luhur, cicit Sunan Jambu Karang yang berkuasa di wilayah Banyumas. Sebagai bawahan Susuhunan Mataram, dia ditempatkan di daerah Ukur yang baru saja dikuasai Mataram (1620). Di sini dia menikah dengan Nyai Gedeng Ukur, puteri Bupati Ukur Dipati Agung atau cicit Raja Pakuan Pajajaran. Menjadi bupati Ukur menggantikan mertuanya yang wafat dan oleh Susuhunan Mataram diangkat menjadi bupati wedana Priangan tahun 1625, menggantikan Bupati Sumedang Rangga Gempol (1620-1625). Tatkala tentara Mataram menyerang Batavia untuk mengusir Kompeni (1628), dia bersama pasukannya sebanyak 4000-4500 orang diikutsertakan dalam pengepungan kota itu.

Secara keseluruhan pengepungan kota gagal sehingga pasukan pimpinan Dipati Ukur kembali ke daerah mereka. Sejak itu Ukur bersikap melepaskan diri dari ikatan dengan Mataram, memperkuat pertahanan di daerahnya (1629), dan memperkenankan sebagian rakyatnya mengungsi ke daerah sebelah barat di sekitar Batavia dan Banten. Susuhunan Mataram dua kali mengirim pasukan secara besar-besaran untuk menumpas pemberontakan Dipati Ukur (1630-1632). Dipati Ukur berhasil menahan serangan pertama tentara Mataram (1630), namun serangan kedua (1632) tak kuasa lagi ditahan sehingga pusat pertahanannya di Gunung Lumbung hancur serta sejurnlah rakyat Ukur tewas dan ditangkap lalu dibawa ke Mataram sebagai tawanan. Akhir hayat Dipati Ukur sendiri diungkapkan dalam dua macam sumber yang berbeda. Yang satu bahwa ia ikut tertangkap, kemudian dihukum mati di Mataram dan yang lain bahwa dia dapat meloloskan diri, kemudian menyamar sebagai rakyat biasa. Hingga sekarang ada beberapa tempat di sekitar Bandung yang dipercayai masyarakat sebagai kuburan Dipati Ukur, seperti di Ujung Berung, Ciparay, Banjaran, di samping petilasan yang berhubungan dengan Dipati Ukur, seperti Cibodas (Lembang), Cicilan, Gunung Lumbung.