UJAN ANGIN, PERMAINAN

Permainan anak-anak Jakarta yang melibatkan dua regu dengan anggota minimum berjumlah tiga orang. Ujan angin diartikan "kadang-kadang dapat, kadang-kadang tidak", maksudnya kadang digendong kadang malah menggendong terus. Sesuai dengan arti nama, permainan ini mewajibkan regu yang kalah menggendong lawannya yang menang. "Ce ... hui. gue digendongkude ... eek ... eek ... eek ... neng," sorak-sorai anak-anak yang digendong, menirukan suara kusir kuda. Biasanya anggota regu yang hampir kalah "udeh ngibrit lari" dulu sehingga regu yang merasa dirugikan akan segera nguber (mengejar). Bila tertangkap, mereka akan "meneke" (menjitak) anak yang melarikan diri tadi.

Permainan ujan angin membutuhkan gacoan berupa pecahan genteng atau apa saja yang pipih, cukup berat untuk dilempar, dan tidak mudah terbawa oleh angin. Setelah menentukan jarak antara garis I dan II (teit) dan pasangan lawan yang seimbang maka para pemain akan berusaha melemparkan gacoannya ke posisi teit, "tee ... iiit" (suara pemain sambil melempar gacoan). Regu yang anggotanya berhasil melempar gacoan 3 kali berturut-turut pada posisi teit berhak untuk digendong.

Permainan ujan angin dikenal oleh penduduk di Kampung Marunda Pulo, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Di Kelurahan Koja utara lebih dikenal dengan nama angin-anginan. Permainan ini banyak digemari oleh anak-anak pada tahun 1950-an dan mencapai puncak sekitar tahun 1964-1965. Pada tahun 1965 sampai 1968 sudah tidak begitu populer namun pada tahun 1969 sempat muncul kembali.