Uang Tegor

Uang yang diberikan oleh Tuan Raje Mude (pengantin laki-laki) sehari setelah pernikahannya, sebagai rayuan terhadap istrinya agar mau berbicara dengannya. Dalam tradisi Betawi walaupun sudah menikah, mereka tidak diperbolehkan untuk kumpul sebagaimana layaknya suami-istri dan selama mungkin Nona Penganten (pengantin wanita) harus mampu mempertahankan kesuciannya. Bahkan untuk melayani berbicara pun, None Penganten harus bisa menjaga gengsi dan jual mahal. Meski begitu kewajibannya sebagai istri harus dijalankan dengan baik, seperti melayani suami untuk makan, minum dan menyiapkan perlengkapan mandi.

Uang tegor tidak diberikan secara langsung, tapi diselipkan atau diletakkan di bawah taplak meja atau di bawah tatakan gelas. Terkadang dengan uang tegor ini pun hati None Penganten belum mencair, karena uang tegor-nya masih relatif kecil. Tuan Raje Mude pun harus menambah lagi uang tegornya, sehingga dari hari ke hari jumlahnya semakin besar.