UANG SEMBAH

Disebut juga sembah lamaran atau tanda putus. Salah satu tahap dari berbagai prosesi perkawinan adat di Betawi umumnya dan Kemayoran khususnya. Orang tua si jejaka mengantarkan uang sembah, dua nampan buah-buahan dengan memberi cincin belah rotan disertai para kerabat ke rumah gadis sebagai tande putus kepada calon mempelai wanita. lni berarti None Calon Mantu telah terikat dan tidak lagi dapat diganggu oleh pihak lain walaupun pelaksanaan tande putus dilakukan jauh sebelum pelaksanaan Acara Akad Nikah.

Pada umumnya perjanjian ini berlaku untuk beberapa waktu hingga dilaksanakan pernikahan, biasanya dilaksanakan setelah ngelamar pada hari yang sama seminggu sesudahnya. Pada acara ini dibicarakan pula masalah seputar pernikahan seperti mas kawin atau mahar yang diminta, nilai uang yang diperlukan untuk resepsi pernikahan, kekudang yang diminta, pelangkah kalau ada, lama pesta diselenggarakan, pakaian yang akan dipakai serta banyaknya undangan.

Setelah membicarakan hal-hal yang diperlukan, termasuk uang mas kawin, oleh pihak laki-laki diserahkan kepada pihak si gadis, maka pada suatu hari tertentu, kira-kira tiga hari sebelum hari perkawinan tiba, si pemuda dengan diantar oleh salah seorang keluarga pergi ke rumah calon mertua untuk menyerahkan uang kepada si gadis sendiri, yang disebut "uang sembah." Jumlahnya tidak ditentukan, tergantung dari keadaan si pemuda sendiri.

Maksud dan tujuan penyerahan "uang sembah" ini kemungkinan sebagai pembuka hubungan antara si pemuda dengan gadis yang akan menjadi calon istrinya. Kemungkinan lainnya adalah karena si gadis pada hari perkawinannya nanti akan melakukan "penyembahan" kepada calon suaminya, karena itu hatinya perlu "ditawarkan" dengan uang sembah ini.